Ketika Kita Mau Mendengar Dan Mengenal

Tidak selamanya putih itu bersih, karenanya jangan mau kita dikotak-kotakan.

Sebuah obrolan sebelum dan sesudah jumatan kemarin membuka mata saya mengenai hakikat perbedaan. Saya berkesempatan untuk mengobrol dengan seorang Ketua salah satu organisasi sayap partai merah yang mendukung Pak Basuki di Pilkada Jakarta kemarin.

Beliau adalah Pak Haji yang disegani di lingkungannya di sebuah kota Jawa Tengah. Pengakuannya membuka hati saya.

“Memang sudah seharusnya Jakarta dipimpin muslim. Agar tidak menjadi seperti Singapura,” katanya membuka pembicaraan.

Sebuah kalimat yang memunculkan banyak tanya di benak saya.
“Mas, sebulan tinggal di Lenteng Agung hingga hari pencoblosan. Lebih dari 100 kader Jawa Tengah semua turun. Melakukan pendekatan, membagi sembako, membuat komitmen dengan warga, dan bergotong royong memenangkan Pak Basuki. Sekitar dua minggu sebelum pencoblosan, saya menghadap salah satu ketua DPP Partai dan berkata, Pak Basuki akan sangat sulit untuk menang. Sambil saya beberkan datanya. Bukan hanya saya, tak terhitung pemimpin daerah dari Sumatera hingga Papua yang ikut turun ke Jakarta, padahal mengenal Pak Basuki pun tidak. Kami All Out. Hingga H-1 saya juga akhirnya diminta pindah oleh Kapolres karena ada indikasi, posko kami akan didemo ,” tambah beliau.

“Lalu apa yang membuat Bapak begitu all out?” saya bertanya.

“Ketika saya melakukan semua itu, teman dulu saya nyantri sama Pak Kyai mengirim chat sambil nangis mas. Meyayangkan kenapa saya mendukung Pak Basuki. Jawaban saya sederhana. Yang saya dukung bukan Pak Basukinya, tapi Haji Djarotnya. Pak Djarot orang baik, muslim yang taat. Dan saya adalah kader Partai. Instruksi pemimpin partai akan saya lakukan sebaik mungkin.”

Melihat semangatnya, gaya bicaranya, saya tidak heran ketika melihat karir politiknya sekarang yang begitu cemerlang. Beliau adalah salah satu pejabat publik yang paling disegani di Jawa Tengah. Bahkan bisa jadi akan mendampingi Pak Ganjar Pranowo di Pilkada Jateng 2018 nanti.

Yang menarik adalah saat dia mengobrol dengan saya, dia memakai baju kotak-kotak. Namun baju kotak-kotak model Pak Jokowi. Dia punya banyak sekali baju kotak-kotak model Pak Basuki namun tidak sekalipun dia memakainya. Bahkan di hadapan saya, dia bagi-bagi baju kotak-kotak model Pak Basuki ke supir dan tetangganya.

Kawan, sepanjang pengalaman saya hadir di acara Parta Politik Indonesia, hanya ada 3 partai yang memiliki kader yang militansinya di atas rata-rata saat ini. PKS, Gerindra, dan PDIP. Jika kamu pernah terjun ke dunia politik praktis, mematuhi keputusan pimpinan adalah hal yang mutlak. Suka atau tidak suka. Dalam politik tidak ada ilmu pasti, selalu memakai ilmu infinity. Kemungkinannya tak terhingga. Yang pasti hanya satu, yaitu kepentingan. Kawan dan Lawan dalam politik, tipis sekali sekatnya. Keputusan pagi bisa berubah sore hari. Musuh siang hari, bisa jadi sahabat malam hari. Kalau kata orang jawa, esuk dele sore tempe.

Itulah pentingnya bagi kita semua, pendukung siapapun Anda. Jangan meletakkan 100% kekaguman Anda terhadap manusia. Jangan terlampau fanatik pada manusia. Karena meletakan harapan pada manusia adalah sumber no.1 rasa kecewa. Kita proporsional saja. Dia bagus kita apresiasi, dia menyimpang kita kritisi. Adil sejak dalam pikiran. Jangan hanya karena fanatisme, kita jadi bodoh.

Pilkada Jakarta kemarin saya ada di barisan supporter Mas Anies dan Bang Sandi. Dan saya akui, tidak semua dari pendukung Mas Anies itu malaikat. Dan sebaliknya, tidak semua pendukung Pak Basuki dan Pak Djarot itu jahat. Orang baik dan orang jahat ada di kedua kubu. Itulah faktanya. Jangan sekali-kali menggeneralisir sesuatu.

So, jangan jadikan momen pilkada ini sebagai sekat antara orang baik walaupun berbeda pilihan politik. Pestanya sudah usai, tugas kita bersama untuk membereskan tenun kebhinekaan yang sempat berantakan.

Disaat tenaga konsentrasi dan energi kita teralih untuk saling sindir, bully, dan maki, Mike Pence (Wapres AS) datang ke Indonesia. Yang menurut sumber saya di ring pemerintahan, agendanya erat kaitannya dengan Papua. Kita akan menjadi pihak yang paling menyesal ketika kita sibuk bertikai, tiba-tiba Papua sudah lepas dari Ibu Pertiwi. Berlebihan? Silakan cari berapa jumlah pasukan AS yang sudah standby di Port Darwin saat ini. Bersiap menunggu komando untuk membebaskan Papua dari Bumi Nusantara.

Sudahlah, kita kurangi postingan di social media yang panas dan tidak membuat bangsa ini bertambah sejuk. Memaki dan membully tidak membuatmu tambah kaya dan masuk surga bukan?

Ini adalah saatnya kita bergandengan tangan. Sama sama mengawasi pemimpin yang sudah terpilih. Sama-sama memberikan energi dan perhatian kepada saudara-saudara kita di perbatasan, di pinggiran. Indonesia bukan hanya Jakarta, bukan hanya Jawa.

Kawan, mari kita sama-sama hilangkan sekat. Kita sama-sama pakai akal sehat. Kurangi berdebat, kembali saling berjabat erat.  Sebelum semuanya terlambat. Kita perkokoh kembali persatuan untuk Indonesia hebat. Jangan lelah mencintai negeri ini tanpa syarat..

 

Tiko ?

Saat ini sedang ramai kasus penghinaan Tuan Guru Bajang, seorang Gubernur NTB. Dan bernama lengkap KH. Lalu Gede Muhammad Atsani , Lc,. MPd.I. Seorang hafidz quran sealigus cucu dari ulama besar asal Lombok Syaikh Zainuddin….

Bahwa Tujuan Lebih Kuat Dari Perbedaan

3 months

Suatu hari kau pernah berujar, “Diantara kita terlalu banyak perbedaan..” Kemudian yang terjadi adalah kau kemudian menyerah pada keadaan dan melangkah mundur perlahan. Sejurus kemudian aku tersadar. Kita memang berasal dari galaksi berbeda. Di galaksimu,…

Untukmu, Nona Yang Belum Bernama

3 months

“Jika kita berjodoh, Walaupun hari ini dan di tempat ini tidak ketemu, kita pasti akan tetap dipertemukan dengan cara yang lain.” – Fiersa Besari   Tahukah kamu, kalimat itu baru kubaca di halaman ketiga belas…

Melahirkan Penulis Dari Yatim dan Dhuafa

Menulis dan memasarkan Kitab Penyihir Aksara harus saya akui menjadi pengalaman spiritual bagi saya. Di awal, saya sudah memberikan reward Umroh bagi teman-teman Reseller. Dan pagi ini saya mendapatkan sesuatu yang mengejutkan! Saya chatting dengan…

Tentang Memilih dan Dipilih

4 months

Berbicara tentang memilih dan dipilih, ini sama artinya dengan berbicara kesiapan. Kesiapan untuk diterima, atau kesiapan untuk mencerna makna, “ini belum saatnya.” Dan hei, saat ini saya sedang membahas hubungan antara laki-laki dan perempuan. Dimana…