Tentang Syarat Beli 500 Buku Bagi Penulis Dari Penerbit

Saya disini memosisikan diri sebagai penulis yang sudah ratusan kali berurusan dengan major publisher mengenai proses terbit menerbitkan sebuah buku. Baik itu buku alumni dari Inspirator Academy maupun buku saya sendiri.
Jadi apa yang saya tuliskan ini semoga bisa membuat teman-teman semua melihat dari sisi yang utuh tentang proses penerbitan dari Major Publisher.
Berawal dari ada seorang penulis yang ditawarkan untuk membeli 500 buku sebagai prasyarat sebelum naskahnya diterbitkan oleh satu penerbit major. Dan dari sekian banyak komentar yang saya baca, belum ada yang secara utuh mengupasnya secara kaffah. Here we go.
Memang benar, ada penerbit major yang mensyaratkan kepada penulisnya untuk membeli minimal 500 buku sebelum bukunya diterbitkan. Bagi saya itu adalah sesuatu yang WAJAR dan BIASA SAJA. Karena apa? Karena TIDAK SEMUA PENULIS diberikan syarat yang sama. Hanya SEBAGIAN PENULIS saja. Lantas penulis seperti apa yang dikenai syarat seperti itu? Berdasarkan pengalaman saya, penulis yang mengajukan naskah di penerbit, dibagi menjadi 3 kategori.
 
A. PENULIS YANG NASKAHNYA BELUM SESUAI DENGAN PENERBIT : Penulis kategori ini adalah yang sudah mengajukan naskah ke penerbit, lantas ditolak diterbitkan. Pada sebagian besar kasus, bukan karena naskahnya jelek, namun karena naskahnya belum sesuai dengan kebutuhan penerbit.
 
B. PENULIS YANG NASKAHNYA SESUAI DENGAN PENERBIT, NAMUN MASIH ADA KERAGUAN DARI PENERBIT UNTUK PROSPEKNYA :
Penulis kategori inilah yang biasanya diberikan syarat untuk membeli 500 buku karyanya sendiri. Saya jelaskan secara untuk prosesnya dan ketentuannya ya.
 
1. Proses terbit suatu naskah tidak hanya melibatkan seorang editor saja. Tetapi melalui mekanisme rapat redaksi. Yang melibatkan tim marketing, promosi, hingga ke pimred. Bisa saja editor sangat optimis mengenai suatu naskah tapi bagian lain meragukannya. Misalnya dari data track record penjualan buku serupa di pasaran, dan yang lainnya. Jadi keputusan terbit suatu buku TIDAK MURNI DI TANGAN EDITOR. Melainkan melalui proses diskusi sebuah forum besar. So, please jangan serta merta menyalahkan editormu.
 
2. Jika kondisi deadlock, saat editor kekeuh memutuskan sebuah naskah layak terbit, namun pihak marketing meragukannya, di sinilah diambil jalan tengah. Apa itu? Yes, penerbit akan menerbitkan buku sebanyak miimal oplah mereka, 2000 eksemplar buku. Namun penerbit akan berbagi resiko dengan penulis. Penulis membeli 500 buku, sedangkan 1500 buku sisanya akan diedarkan di seluruh toko buku jejaringnya.
 
3. Syarat 500 buku yang harus dibeli penulis, penerbit tidak akan membebankan harga jual kepada penulis. Untuk pembelian 500 buku, sepanjang pengalaman saya, penulis akan mendapatkan diskon 30%. Misal harga jual buku 50.000, maka penulis akan mendapatkan harga 35.000 .
Dan penulis tetap akan mendapatkan royalti 10%.
Dari sudut pandang saya, ini adalah keuntungan ganda bagi penulis. Lakok bisa?
 
Gini ya, misal saya beli 500 buku, @35.000 dengan total harga Rp 17.500.000 .
Lalu saya jual 500 buku itu dengan harga normal, @50.000 , maka saya akan mendapatkan Rp 25.000.000 . Saya untung dari penjualan sebesar 7.500.000 . Eits jangan lupakan royalti, 10% dari 25.000.000 yaitu sebesar 2.500.000 . Total untung yang saya dapatkan 10.000.000 dari 500 buku yang saya jual.
Kalau saya hanya mengandalkan toko buku untuk menjual, saya Cuma dapat 2.500.000. 2,5 juta dibanding 10 juta. 4 KALI LIPAT SELISIHNYA!
 
Anyway, seumur hidup naskah saya yang diterbitkan di major, belum pernah diberi syarat seperti ini. Yang ada justru sebaliknya, SAYA MEMAKSA PENERBIT untuk menyediakan stok untuk saya minimal 1000 BUKU. Yang saya akan beli di awal sebelum didistribusikan.
 
C. PENULIS YANG NASKAHNYA SESUAI DENGAN KEINGINAN PENERBIT DAN MEMILIKI PROSPEK MEYAKINKAN. Kategori penulis ini sudah tidak usah ditanyakan lagi definisinya. Naskah mereka bagus, dan penerbit pun memiliki pandangan yang sama dari segi bisnis. 80 persen alumni Inspirator Academy ada di kategori ini.
 
MASALAHNYA ADALAH TIDAK SEMUA PENULIS MEMILIKI MODAL YANG CUKUP UNTUK MEMBELI 500 BUKU!
 
Saya yakin sebagian dari kamu yang membaca tulisan ini langsung teriak seperti itu. Sebelum saya sajikan solusinya, saya sekali lagi akan menjelaskan tentang PARADIGMA YANG SEHARUSNYA DIMILIKI PENULIS PEMULA.
Yang saya bahas disini adalah penulis pemula, yang ingin mengajukan karya perdananya di major publisher. Bukan yang sudah memiliki nama dan eksis di dunia perbukuan. Jika kamu benar-benar pemula, minimal kamu harus memiliki salah satu dari syarat ini.
 
1. Kemauan Menjual. Saya tidak sedang bicara tentang kemampuan/ skill menjual. Cukup MAU untuk menjual bukunya. Sayangnya banyak penulis yang MALU dan pada ujungnya GA MAU jualan bukunya sendiri. Alasannya ga pede lalala. Begini ya bosqueeeh, KALAU KAMU AJA GA PEDE JUALAN BUKUMU SENDIRI, BAGAIMANA PENERBIT PEDE UNTUK MENJUALKAN BUKUMU?
“Tapi aku ga pernah jualan mas. Ga punya ilmunya!”
Kalau kamu serius mau belajar, pasti ada 1000 jalan. Tapi kalau kamu sendiri ga mau belajar, yang muncul pasti 1000 alasan.
“Mas Brili enak bisa ngomong gitu, udah sering jualan..”
Bosqueh,, yang saya dapatkan hari ini adalah serangkaian proses pahit selama 7 tahun saya mulai dari 0. Kamu sekarang enak, social media sudah masif, lha dulu? KAGAK!
Dulu pun saya pemalu untuk jualan. Dulupun saya cupu untuk jualan. Jangankan punya followers atau pembaca loyal, profesi saya sebagai penulis pun masih sering dihina dina.
So, can you just stop complaining?
 
2. Aktif dalam komunitas dan suka berorganisasi. Sekarang, komunitas dan organisasi udah banyaknya ampun ampunan. Sampai perlu dibuat Perpu pembubaran Ormas (eaaaa). Manfaatkan ini untuk penjualan bukumu. Kalau kamu merasa gaptek di dunia online, di dunia offline kamu harus membayar “dosa” itu. Saya ambil contoh salah satu alumni saya, Oma Rosita. Di usianya yang sudah hampir menyentuh kepala 6, tentu dia bukan bagian dari generasi milenial yang melek teknologi. Namun dia aktif di majelis taklim, kelompok pengajian, arisan, pelatihan, dan sosial lainnya. Tanpa socmed, dia bisa tuh cepet ngejual 1000 buku dalam waktu kurang dari 1 bulan.
Tapi ingat ya, pastikan komuniatasnya yang mendukung bukumu. Bukan yang semacam PT mencari cinta sejati.
 
3. Ada alternatif lain selain dua di atas? Ada. Karyamu HARUS DI ATAS RATA-RATA. Mau bagaimanapun teknologi, selera pembaca tetap sama. MEREKA MENCARI BUKU YANG ISTIMEWA. Jadi, misalnya kamu ga punya 2 syarat di atas, tapi BUKUMU ISTIMEWA, dia akan menemukan pembaca nya sendiri. Mungkin ga instan, namun percayalah waktu akan membuktikan.
 
Cukup 1 dari 3 syarat diatas, saya jamin bukumu LAKU! Punya ketiganya? BEST SELLER PASTI. Ga punya salah satunya? Belajarlah dan nikmati prosesnya, jangan mengharapkan hasil instan. Disitu kuncinya?
 
Kemudian masih ada yang teriak, “Ko sekarang major publisher kelihatan sangat komersil ya?!”
 
Gini bosqueeh.. Namanya dunia penerbitan adalah dunia bisnis. Wajar kalau mereka sekarang melakukan berbagai macam tindakan agar mereka tetap bisa eksis. Kalau mereka rugi dan bangkrut, yang rugi juga PENULIS. Cobalah sekali waktu tempatkan dirimu di pihak mereka, saya yakin kamu pun akan melakukan tindakan yang sama.
 
“Oke mas, saya masuk kategori kedua penulis yang diberikan syarat membeli minimal 500 buku. Tapi saya ga punya modal sebesar itu? Bagaimana solusinya?”
 
1. Lakukan pre order sebelum bukumu terbit. Dari sini, kamu bisa punya modal yang cukup untuk membeli sejumlah syarat yang diajukan penerbit.
2. Ini ga ubahnya seperti bisnis. Kalau pengusaha kurang modal, apa yang bisa mereka lakukan? Cari investor! Ini pun bisa dilakukan. Cari investor yang mau membiayai modal awal pembelian bukumu, ikat dalam akad yang adil bagimu dan bagi mereka.
3. Lakukan negosiasi untuk termin pembayaran ke Penerbit. Jadi kamu punya waktu untuk mencicil dalam 2 atau 3 termin pembayaran. Langkah ini sangat bergantung pada cara negosiasi dan komunikasimu kepada Penerbit.
 
Tiga solusi diatas, bukan solusi yang nggedabus. Saya dan banyak alumni Inspirator Academy sudah banyak yang melakukannya dan berhasil.
 
Lantas siapa yang paling bertanggungjawab saat ini ?
PEMERINTAH! (Ini ga ada hubungannya dengan politik ya)
Di Malaysia, pemerintah sana memberikan subsidi bagi penulis yang ingin menerbitkan bukunya sendiri. Jadi penulis ga bingung soal modal di awal. Dan ini terbuka luas akses dan infonya. Sedangkan di Indonesia? Saya ga bilang pemerintah kita tutup mata, tapi nyatanya kebijakan macam di Malaysia belum pernah saya dengar (mungkin saya yang mainnya kurang jauh, kalau kamu tahu infonya, berkenanlah untuk berbagi).
 
Jadi, bagi para penulis, bersatulah. Kita ini punya kekuatan untuk mendorong Pemerintah memberikan perhatian lebih kepada profesi kita. Minimal nanti ketika 2019 tiba, pilihlah capres yang salah satu programnya mendukung penulis.
Semoga mencerahkan. Jika ada yang punya masukan atau pendapat berbeda, jangan sungkan untuk saling bertukar pikiran. Tentu dengan bahasa yang sopan. Kamu sopan, kami segan.
 
Brili Agung
CEO Inspirator Academy
Penulis 26 Buku
 

LAPORAN PAKET BERBUKA GOES TO DESA 2017

2 months

Nabi SAW bersabda: “ Sesungguhnya sedekah itu benar-benar akan dapat memadamkan panasnya alam kubur bagi penghuninya, dan orang mukmin akan bernaung dibawah bayang-bayang sedekahnya, “ – HR. At-Thabrani   Alhamdulillah Terimakasih tiada terkira bagi semua…

Update Paket Berbuka Goes To Desa 2017

2 months

Assalamualaikum Saudaraku… Apakah kita masih diberi kesempatan untuk bertemu Jumat lagi minggu depan? Atau Ramadhan lagi besok? Tak ada yang tahu perihal ini kecuali DIA yang Maha Mencipta. Yang bisa kita lakukan hanyalah berusaha melakukan…

Ketika Kita Mau Mendengar Dan Mengenal

4 months

Tidak selamanya putih itu bersih, karenanya jangan mau kita dikotak-kotakan. Sebuah obrolan sebelum dan sesudah jumatan kemarin membuka mata saya mengenai hakikat perbedaan. Saya berkesempatan untuk mengobrol dengan seorang Ketua salah satu organisasi sayap partai…

Tiko ?

4 months

Saat ini sedang ramai kasus penghinaan Tuan Guru Bajang, seorang Gubernur NTB. Dan bernama lengkap KH. Lalu Gede Muhammad Atsani , Lc,. MPd.I. Seorang hafidz quran sealigus cucu dari ulama besar asal Lombok Syaikh Zainuddin….

Bahwa Tujuan Lebih Kuat Dari Perbedaan

6 months

Suatu hari kau pernah berujar, “Diantara kita terlalu banyak perbedaan..” Kemudian yang terjadi adalah kau kemudian menyerah pada keadaan dan melangkah mundur perlahan. Sejurus kemudian aku tersadar. Kita memang berasal dari galaksi berbeda. Di galaksimu,…

Untukmu, Nona Yang Belum Bernama

6 months

“Jika kita berjodoh, Walaupun hari ini dan di tempat ini tidak ketemu, kita pasti akan tetap dipertemukan dengan cara yang lain.” – Fiersa Besari   Tahukah kamu, kalimat itu baru kubaca di halaman ketiga belas…

Melahirkan Penulis Dari Yatim dan Dhuafa

Menulis dan memasarkan Kitab Penyihir Aksara harus saya akui menjadi pengalaman spiritual bagi saya. Di awal, saya sudah memberikan reward Umroh bagi teman-teman Reseller. Dan pagi ini saya mendapatkan sesuatu yang mengejutkan! Saya chatting dengan…