Abu-Abu Dalam Selena dan Nebula Karya Tere Liye

Nyaris saya melewatkan tenggat waktu untuk meresensi Selena dan Nebula. Utang saya kepada Bang Tere Liye lah yang akhirnya menggerakkan saya untuk menulis ini di detik terakhir. Ya, saya berutang banyak kepada Bang Tere Liye atas semua pembelajaran dan pencerahan dari seluruh karyanya. Ya, saya memiliki dan membaca semua karya Bang Darwis. Semua ilmu yang sejatinya ada di buku-buku non fiksi, mental di hati saya. Baru melalui buku Bang Tere Liye, semua ilmu itu mampu meresap dan menggerakkan. Termasuk dua buku yang akan kamu baca resensinya, Selena dan Nebula.

Dalam serial Bumi, Bulan, dan Matahari, saya justru paling penasaran terhadap sosok Ali di protagonis, atau Si Tanpa Mahkota. Pasti ada spin off menarik bagaimana karakter mereka bisa terbentuk sampai sebegitu kompleksnya. Jadi, ketika dua seri terbaru Serena dan Nebula muncul saya kurang antusias pada awalnya. Saya membaca agar tidak ketinggalan potongan puzzle cerita seri ini. Namun di halaman terakhir Nebula, saya akui saya salah besar.

SELENA

Seperti namanya, saya langsung terlena dengan bagaimana Bang Tere Liye mendeskripsikan karakter Selena. Terutama tentang Selena yang tidak memiliki ekspresi sejak kecil karena faktor kemiskinan. Dalam beberapa adegan, saya ikut pula terlarut merasakan kepedihan kepedihan masa lalu Selena. Saya pernah merasa berada di posisi tersebut. Selena sudah jauh dari orang tua sejak belia. Saya pun sama, sudah sejak SMP harus nge kos, bekerja dan tinggal jauh dari orang tua. Bagaimana kehidupan Selena di awal cerita, langsung membuat hati saya tergenggam seutuhnya dengan novel ini.

Kekuatan Tere Liye yang harus sangat dia syukuri dalam menulis adalah bagaimana dia bisa menciptakan karakterisasi yang tidak biasa. Tidak pernah bocor antara satu karakter dengan karakter lainnya. Bisa kita bayangkan, seri ini sudah ada 9 buku. Tentunya muncul sekali banyak karakter di dalamnya. Namun semua karakter, memiliki sosok yang menonjol dan tidak bertabrakan dengan semua karakter di novel novel sebelumnya. Termasuk di dalam Selena dan Nebula. Di novel ini, Selena memiliki dua sahabat. Mata dan Tazk. Ya, lagi-lagi tiga sekawan. Formula yang sama dengan Raib, Seli, dan Ali. Tapi jangan bayangkan ada kemiripan karakter di dalamnya. Karena tiga  sekawan ini berbeda.

Mendalami perjalanan Selena menjadi pekerja untuk bisa hidup, bagaimana dia mengejar beasiswa, perjalanan awalnya bertemu Tamus dan Av. Lalu pada akhirnya mampu bersekolah di sekolah paling bergengsi di Klan Bulan yaitu Akademi Bayangan Tingkat Tinggi, saya rasa semua pembaca berpikir kisah Selena ini tidak ada bedanya dengan kisah Protagonis lainnya. Mendaki puncak kesuksesan dengan jalan yang berliku, ditemani dua sahabat sejati, lantas mencapai kesuksesan tertinggi pada akhir cerita.

Termasuk saya pun, tergiring untuk berpikir demikian saat membaca novel ini. Dan saya tidak salah. Saya mendapatkan semuanya. Namun saya tidak menduga kejutan-kejutan yang disiapkan Tere Liye sepanjang cerita. Kejutan manis dan kejutan pahit.

Salah satu kejutan manis yang membuat Tere Liye sangat relevan dengan perkembangan zaman saat ini ada pada karakter Tazk. Siapa penulis yang kepikiran akan memasukan eks personil boyband untuk mengambil peran penting dalam cerita yang ditulisnya? Namun Tere Liye menangkap gegap gempita fenomena fans club pada boyband pada novelnya. Bahkan sosok Tazk adalah hulu dan hilir konflik pada novel ini.

Dalam novel ini, saya kembali lagi harus mengangkat topi kepada Tere Liye. Bagaimana dia membuat formula premis sederhana menjadi sangat mendebarkan pada eksekusinya.

Karena bagi pembaca novel, premis Selena dan Nebula ini sungguh sederhana. Seorang gadis yang ingin meraih impiannya, namun harus ditukar dengan misi jahat yang harus diselesaikannya. Premis yang lumrah dan banyak dieksekusi oleh novel , cerita maupun film lain.

Namun tere liye menyuguhkannya dengan megah tetapi tetap menapak Bumi. Favorit saya adalah bagaimana Tere Liye menuliskan adegan Selena berjalan sendirian dalam hutan menjadi sangat misterius. Sangat filmis, dan tentunya sangat memancing pembaca untuk terus menerus membuka halaman demi halaman.

Di dalam novel Selena, saya yakin pembaca masih digiring untuk membedakan dunia ini menjadi hitam putih. Semua pembaca menginginkan apapun yang dilakukan Selena, pada akhirnya dia akan mengambil keputusan sebagai si Putih. Selena seolah olah tersurat untuk menjadi pahlawan pada akhir cerita. Namun, di sini kecerdikan Tere Liye bekerja. Semua pembaca dibuatnya missleading dan baru dibuat tersadar saat membaca…

NEBULA

Poin paling penting dalam Nebula adalah kita sebagai manusia dipaksa untuk membuka mata dan membuang jauh-jauh rasa naif dalam dada. Pengembangan karakter dalam Nebula membuat pembaca menyadari bahwa dunia ini tidak sesederhana Hitam dan Putih.

Seorang Selena atau Miss Keriting dengan sifatnya yang abu-abu..

Seorang Tazk yang digambarkan dengan sangat sempurna namun rapuh dan tidak bertanggungjawab..

Seorang Kosong yang kuat dan melindungi namun menjelma menjadi antagonis paling berbahaya..

Semua kejahatan yang mereka lakukan tidak serta merta membuat pembaca lantas mebencinya seperti membenci penjahat. Karena setiap tokohnya memiliki alasan kuat dibalik setiap perbuatan jahatnya yang mampu membuat pembaca berpikir, “Dia salah sih, tapi aku bisa mengerti alasannya. Mungkin kalau aku di posisi yang sama, akupun akan mengambil keputusan itu.”

Cerminan yang relevan dengan apa yang terjadi di dunia nyata. Di dunia yang kita tinggali pun, akan menjadi sebuah kekeliruan jika kita memandang sesuatu dalam dua spektrum. Hitam dan putih saja. Karena tidak semua yang hitam adalah gelap. Dan tidak semua yang putih adalah terang.

Membaca Nebula akan sangat membantu kita untuk merelasikannya dengan kejadian-kejadian di dunia nyata.

Sebagai seorang laki-laki yang menyukai adegan baku hantam dan pertarungan, saya cukup dimanjakan dengan tensi tinggi yang disuguhkan dalam Nebula. Adegan demi adegan pertarungan sering membuat saya lupa menghela napas.

Namun sebagai generasi yang sudah mengenal kata Baper, bagaimanapun juga Nebula pun mampu mengaduk-aduk sisi sentimentil saya. Hal-hal yang berkaitan dengan pengorbanan, keluarga, dan pengkhianatan membuat emosi saya meluncur seperti roller coaster saat melahap kata demi kata.

Dan rangkaian pengalaman dalam perjalanan aksara saya di Selena dan Nebula akhirnya membuat saya harus menurunkan topi yang saya angkat kepada Tere Liye. Karena tangan saya harus sesegera mungkin menuliskan rasa terima kasih saya kepadanya dalam halaman yang singkat ini.

Saya berharap tulisan ini dapat mengirimkan energi ekstra untuk Bang Tere Liye untuk terus berkarya. Di tengah pandemi dan kejatuhan ekonomi, manusia tetap membutuhkan kewarasannya. Bagi saya, Bang Tere Liye adalah penulis yang mampu secara konsisten memberikan kewarasan-kewarasan itu dalam setiap kata yang diukirnya.

Ps. Saya mendoakan Anda tetap sehat dan selalu bahagia jika membaca Selena dan Nebula melalui jalan yang legal.

Belajar Bisnis Dari Drakor Seru Abis

6 months

Sebagai penulis, melahap film dari berbagai genre adalah kebutuhan bagi saya. Membanjiri pikiran dengan ide ide baru, pembelajaran dan inspirasi dengan cara yang menyenangkan. Jadi itulah kenapa saya ga fanatik terhadap satu jenis genre film….

Transformasi Radikal Qyta Trans

7 months

Pandemi Covid 19 keras menghantam banyak lini. Wabah tentunya menyerang sisi kesehatan, namun ada sisi lain yang juga terhantam tidak kalah telak. Apalagi jika bukan sisi ekonomi. Semua pelaku usaha, mulai dari level kakap sampai…

Review Film Ghost Writer

    Ghost writer yang mereview film ghost writer. Akhirnya, setelah sekian lama bisa nge blog lagi. Dan, kali ini edisi khusus karena saya akan me review sebuah film. Karena biasanya untuk blog ini, review…

Cerita Dari Dirigen Oli Bekas

Cerita Dari Dirigen Oli Bekas Beberapa hari yang lalu mungkin teman-teman tahu bahwa saya menginisiasi donasi untuk membantu seorang anak bernama Latif. Sebuah video viral di social media memperlihatkan dia sedang dipaksa menyiram oli bekas…

Kios Untuk Ayah

Apakah benar hidup bermula di usia 40 tahun? Banyak sekali yang berkata kepada saya demikian. Bisa jadi ada benarnya, bisa jadi tidak berlaku bagi sebagian besar orang. Coba lihat sekeliling kita saat ini, apakah saudara…

Kamukah Salah Satu Gelandangan Itu? – Properti

https://finance.detik.com/properti/3744907/95-kaum-milenial-terancam-jadi-gelandangan-di-2020 Belakangan saya sering membuat survey atau polling mengenai properti. Kamu tahu kenapa? Ya tentu saja berawal dari kegelisahan saya ketika membaca liputan khusus koran kompas bulan februari kemarin, ditambah berita penegasan dari detik.com ….