Cerita Dari Dirigen Oli Bekas

Cerita Dari Dirigen Oli Bekas

Beberapa hari yang lalu mungkin teman-teman tahu bahwa saya menginisiasi donasi untuk membantu seorang anak bernama Latif. Sebuah video viral di social media memperlihatkan dia sedang dipaksa menyiram oli bekas ke sekujur tubuhnya karena tuduhan mencuri onderdil bekas.

Berkat dukungan banyak orang baik, donasi yang saya inisiasi via kitabisa.com mencapai target 100 persennya tepat tanggal 7 Mei kemarin. Ratusan donatur tergerak hatinya menyelamatkan masa depan anak ini. Kemarin, tepat tanggal 7 saya memulai perjalanan saya untuk menemui Latif dan menyampaikan amanah para donatur.

https://kitabisa.com/beasiswalatiefRiwayat Pencairan

Saya sampai Jogjakarta pukul 15.00 WIB dan sudah mengatur janjian dengan Pak Dukuh (Kadus) Bayeman, tempat dik Latif tinggal pukul 17.00 . Saya dijemput Local President JCI Sleman (Uda Rizaldy) dan pengurus JCI Sleman lainnya, Bang Onma dan Mba Nabila. Surprisingly, Bang Onma adalah alumni saya di program Mentoring Menulis Online. Dan pertemuan tidak sengaja itu menjadi hangat seketika. Karena ini saya baru pertama kali bertemu teman-teman JCI Sleman.

Dari stasiun kami menjemput adik saya Zulham yang berkuliah di Jogja untuk mengambil tanda seremonial pemberian beasiswa. Sekaligus saya juga menyambut baik keinginannya untuk menjadi kakak asuh bagi Latif. Dalam perjalanan pun, kami mampir membeli sebuah sepeda titipan dari Local President JCI Batavia, Bang Andi Nasution.

Perjalanan sore itu diluar perkiraan kami. Macet kota Jogja sore hari membuat kami baru sampai ke dukuh Bayeman setelah maghrib. Selesai shalat, kami disambut di rumah Pak Dukuh. Ternyata setelah kejadian yang menimpa Latif ramai di media sosial, dia sementara diungsikan kesitu. Untuk menghindari trauma. Karena berkali kali dia ditanyai Polisi untuk membuat BAP, didatangi awak media, Ibu Bupati, hingga KPAI Pusat pun memintai keterangannya.

Perkiraan saya tepat. Saya datang dalam kurun waktu seminggu setelah kejadian, kondisi Latif sudah jauh lebih kondusif untuk berbagi. Wajahnya terlihat cerah walaupun agak sungkan atau malu malu. Rombongan kami disambut Pak Dukuh dan beberapa tetangga yang merawat Latif.

Pertama kali saya menyapa Latif, dia tidak merespon. Pak Dukuh menyuruh saya untuk bicara lebih dekat dan lebih keras. Karena memang anak ini menderita gangguan pendengaran dari lahir. Walaupun dia memakai alat bantu dengar, tapi itu belum maksimal untuk dia mendengar layaknya orang normal.

Pak Dukuh disana lebih banyak sebagai jubir mewakili Latief. Latief yatim piatu sejak 2015. Ibunya meninggal setelah sekian lama menderita kanker serviks. Tidak sampai 100 hari setelah Ibunya meninggal, Bapaknya pun meninggal setelah jatuh dari pohon kelapa. Bapak Latif adalah petani salak yang juga seorang penderes kelapa. Latif hidup sebatang kara. Tanpa saudara. Dia sebenarnya memiliki Pakde, namun tempat tinggal yang jauh dan hidup yang juga kekurangan, membuat warga dukuh tidak menitipkannya kesana. Akhirnya Latif diasuh oleh sepupu dari Ibunya. Orang yang ia panggil Paman. Pamannya pun sehari hari hanya berprofesi sebagai petani salak. Hidup dalam keterbatasan tidak membatasi niatnya untuk merawat anak yatim piatu.

Sehari-hari Latif sekolah normal di SMP N 2 Sleman. Selesai sekolah, sorenya dia mondok untuk mengaji. Di sore yang naas itu, Latif hendak memperbaiki motor warisan bapaknya. Motor tua honda 70. Mungkin itulah satu satunya peninggalan almarhum Bapaknya yang membuatnya tetap merasa dekat walaupun sudah ditinggal selamanya. Ketika di bengkel dia melihat ada onderdil bekas yang dia pikir bisa memperbaiki motor tuanya, dia tergoda untuk mengambilnya diam-diam. Naas, pemilik bengkel memergokinya dan memberinya pilihan. Menyiram oli bekas atau dipanggilkan warga untuk dikeroyok. Jika kita ada di posisi Latif, pasti kita memilih yang pertama bukan?

Latif pun menyiram tubuhnya dengan satu drigen oli bekas. Sambil direkam oleh pemilik bengkel. Yang dikemudian hari menjadi sumber masalah pemilik bengkel itu sendiri. Rekaman yang diambil pemilik bengkel itu menyebar luas karena diunggah ke grup whatsapp. Lalu kemudian meluas ke FB dan Instagram. Hingga akhirnya polisi dan KPAI Pusat turun tangan.

Menurut Pak Dukuh, pihak Latief dan pemilik bengkel sudah sepakat berdamai. Namun kasus ini tetap dilaporkan oleh pihak KPAI ke Kepolisian. Karena sudah mencederai kemanusiaan.

Setelah kasus tersebut simpati dari berbagai pihak mengalir untuk Latief. Saya pun bertanya,

“Sudah ada yang memberi bantuan beasiswa kepada Latief? Kemarin saya dengar di media, pemilik bengkel mau menyekolahkan dia.”

“Sampai saat ini belum ada. Pengakuan pemilik bengkel kepada media memang mau menyekolahkan dia. Namun sampai saat ini tidak pernah ada tawaran langsung kepada pihak Latief.” Kata Pak Dukuh.

“Pak, ini dari donatur terkumpul Rp 30.000.000 untuk biaya Latief sampai lulus SMA. Beasiswa ini akan dikelola oleh Yayasan Pena Peradaban Semesta. Kapanpun Latief membutuhkan untuk biaya sekolah, langsung hubungi saya. Saya secara langsung atau melalui kakak asuh Latief yang sudah kami amanahkan ke Zulham akan langsung mentransfer biaya kebutuhannya. Yang penting Latief dapat mencapai cita-citanya setinggi mungkin. Dan ini saya juga ada titipan sepeda yang bisa Latief pakai untuk pulang pergi ke sekolah.”

P_20180507_184808

Alhamdulillah niat baik kami disambut hangat. Latief lebih banyak diam, mengangguk dan merespon singkat pertanyaan kami. Dia mengaku ingin menjadi pembalap sepeda motor suatu hari. Mengikuti idolanya, Doni Tata.

Sebuah malam yang luar biasa. Saya belajar tentang bagaimana banyak orang-orang baik digerakan hatinya untuk menolong anak yatim piatu yang serba kekurangan.

Saya juga belajar tentang bagaimana menyakiti anak yatim piatu adalah sebuah hal yang akibatnya akan dibayar tunai oleh Allah SWT. Bagaimanapun juga, anak yatim piatu akan berdampingan dengan Rasulullah di surgaNya.

Malam itu saya belajar, bagaimana sebuah musibah bisa jadi adalah caraNya mengantarkan kita kepada anugerah. Musibah yang menimpa Latief kemarin, membuatnya memiliki banyak saudara baru dan jaminan pendidikan masa depan.

Terimakasih teman-teman Donatur atas kepercayaannya.

Terimakasih Latif atas pembelajarannya yang berharga. Kamu kuat.

P_20180507_184619 P_20180507_184716 P_20180507_184808 P_20180507_190105

Kios Untuk Ayah

6 months

Apakah benar hidup bermula di usia 40 tahun? Banyak sekali yang berkata kepada saya demikian. Bisa jadi ada benarnya, bisa jadi tidak berlaku bagi sebagian besar orang. Coba lihat sekeliling kita saat ini, apakah saudara…

Kamukah Salah Satu Gelandangan Itu? – Properti

7 months

https://finance.detik.com/properti/3744907/95-kaum-milenial-terancam-jadi-gelandangan-di-2020 Belakangan saya sering membuat survey atau polling mengenai properti. Kamu tahu kenapa? Ya tentu saja berawal dari kegelisahan saya ketika membaca liputan khusus koran kompas bulan februari kemarin, ditambah berita penegasan dari detik.com ….