A Tribute to STP Nusa Dua

A Tribute to STP Nusa Dua
Kedungpring, 23 April 2012
Brili Agung Zaky Pradika
Mungkin ini adalah teks yang akan aku bacakan andai saat wisuda ada di posisi Krishna sebagai pembaca kesan dan pesan. Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua selalu mempunyai arti yang luar biasa di hati para alumninya. Aku salah satunya.


Berawal dari bulan Juli tahun 2007. Ketika kegalauan luar biasa melanda selepas lulus SMA. Bagaimana tidak galau, ketika tahun ajaran baru telah mendekat, Aku belum dapat satupun kepastian dari Perguruan Tinggi manapun. Harapan terbesarku untuk masuk ke Fakultas Kedokteran atau Fakultas Teknik pun telah pupus karena satu kekurangan yang kumiliki. Buta Warna Parsial. Yes, I am Color Blind. Di tengah-tengah ketidakpastian dan ketidakjelasan itu pun datang satu informasi tentang sebuah sekolah antah berantah. Sekolah yang yang jujur waktu itu baru aku dengar namanya. Seorang kerabat dari Ayah lah yang menghembuskan kabar berita mengenai sekolah itu. Sekolah itulah Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua, Bali yang dulu lebih dikenal sebagai BPLP. Bah, sekolah macam apa pula lagi itu. Aku saat itu benar-benar buta. Lalu Ayah pun menganjurkanku untuk mencari setiap detail informasi mengenai sekolah ini.
Oke, lalu aku tahu dari google bahwa sekolah ini adalah sebuah sekolah negeri, dibawah naungan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (saat itu), dan terletak di Bali yang berjarak ribuan kilometer dari rumahku di Purwokerto. Sebenarnya ada satu alternatif yang lebih dekat kala itu yaitu STP Bandung. Sayangnya, aku terlambat karena waktu pendaftaran untuk STP Bandung telah tutup. Aku terlambat. Dengan sisa waktu kurang dari 3 hari sebelum penutupan pendaftaran, Aku dan keluarga lantas berangkat ke Bali. Pendaftaran tidak bisa dilakukan secara online, harus langsung on the spot.

Sesampainya di kampus yang begitu kental adat Bali nya ini pun Aku masih belum tahu Jurusan apa yang harus aku ambil. Berbekal rekomendasi seorang Ibu petugas pendaftaran, pilihan pertama aku jatuhkan pada Administrasi Perhotelan. Dan pilihan kedua aku cantumkan Manajemen Divisi Kamar karena aku melihat ada kata-kata ‘divisi” yang menurutku terdengar keren.

Ujian masuk kampus ini, langsung diadakan di hari berikutnya. Dua hari. Satu ujian tulis dan satu lagi Interview. Entah apa yang terjadi, semua proses ini aku lalui begitu lancar dan tanpa beban. Seperti sudah berulang kali mengikuti seleksi jenis ini. Padahal saat itu, itu pertama kalinya aku menginjakan kaki di kampus STP Nusa Dua Bali.
Selesai mengikuti ujian, Kami sekeluarga pulang dan berencana langsung mendaftar di STAN. Semua persyaratan sudah lengkap dan nilai rata-rata Ujian Nasionalku pun cukup untuk mendaftar. Besar harapanku diterima di STAN saat itu.
Sayang, memang Tuhan mempunyai skenario lain. Seminggu setelah ujian, hasil seleksi STP pun diumumkan. Dan alhamdulillah namaku tercantum di pilihan pertama program studi yang kupilih. Yaitu Administrsi Perhotelan. Dan saking sempurnanya skenario Tuhan, waktu PDSP di STP pun bertepatan dengan waktu Ujian di STAN. Buah simalakama yang harus kutelan lagi. Akhirnya aku memilih untuk mengikuti PDSP di STP dan harus merelakan mimpiku berkuliah di STAN saat itu. Tidak cukup sampai situ, suara-suara sumbang pun terdengar dari temanku yang mendapatkan namanya di Universitas Negri ternama.

Aku harus merelakan rambutku dibotakin ala tentara, Rela dijemur panas-panasan ditengah lapangan berhari-hari, rela di hukum Jumping Jack tiap saat, rela hanya tidur satu jam tiap malam demi tugas PDSP yang menumpuk, dan rela menjadi seorang “cama roaming”. Karena setiap kali dipanggil cama roaming, aku harus dengan lantang berbicara “Ono opo celuk-celuk Aku” dengan logat medok yang kental di depan ratusan calon mahasiswa peserta PDSP. Sungguh sempurna skenarioNYA untukku.

Brili Agung - STP Nusa Dua Bali
Ternyata, setelah selesai PDSP dan masuk kegiatan perkuliahan ujian tidak serta merta selesai. Berbagai macam praktek yang sangat menantang dan sangat asing buatku harus aku jalani dengan senang hati. Aku tak pernah membayangkan sebelumnya harus mengangkat 4 piring super berat berisi makanan panas dengan dua tangan tanpa tray dan menghidangkannya, Aku pun tak pernah membayangkan harus bergulat dengan alat-alat kebersihan membersihkan toilet bowl, Dan Aku sama sekali tak pernah membayangkan harus mengupas ratusan kentang setipis mungkin dalam waktu sejam.

Sudah Aku bilang di awal, Skenario Tuhan Itu Maha Sempurna. Di saat yang sama, aku dipertemukan dengan teman-teman seperjuangan yang luar biasa. Dosen-dosen yang teramat profesional dan ahli di Bidangnya. Bahkan aku dipertemukan keluarga baru di luar kegiatan akademis kampus. Yaitu Iklim STP Nusa Dua, mereka adalah sebuah keluarga yang begitu juara. Di sinilah aku belajar terjun langsung menjadi entrepreneur, berkenalan dengan pengusaha-pengusaha terbaik di Nusantara.

Ada satu alasan lagi mengapa aku bersyukur dan bangga menjadi bagian dari Kampus luar biasa ini. Ketika Aku sedang mengikuti internship di Ritz Carlton Pacific Place selama 6 bulan, aku mendapatkan kesempatan untuk belajar di Human Resources Department. Ada dua orang trainee di Departemen itu saat itu. Aku dari STP Nusa Dua Bali dan satu temanku dari Kampus Perhotelan paling terkenal sejagat raya. Mana lagi kalo bukan dari Glion, Swiss. Dia menguasai lima bahasa sama baiknya. Dia mempunyai pengalaman luar negri.Dia Berasal dari keluarga yang berada kalau dibandingkan denganku yang “hanya” anak dari seorang guru. Buatku, ini bagai David disampingkan dengan Goliath. Tapi lagi-lagi inilah bukti bahwa aku bangga menjadi bagian dari STP Nusa Dua Bali. Saat evaluasi akhir, temanku dari Glion tersebut mendapatkan nilai 45 dari skala 0-50. Dan aku mendapatkan nilai 46. Luar biasa bangganya Aku saat itu. Mahasiswa Sekolah Tinggi Nusa Dua Bali dapat mengalahkan seorang Mahasiswa dari Glion, Swiss.

Di Kampus ini pun aku mendapatkan sebuah kesempatan menjadi General Manager Aplikasi Manajemen yang menjadi trademark ADH. Awalnya sempat ragu, tetapi pada akhirnya menjadi kebanggaan yang luar biasa ketika akhirnya acara kami berlan sangat smooth, mendapat apresiasi Bapak Ketua, mendapatkan profit yang besar, dan Gongnya adalah ketika mendapat nilai A.

Di Kampus ini pula aku dapat menyelesaikan skripsi dalam waktu 4 bulan dengan bimbingan Pak Wisnu dan Bu Ari yang begitu sabar dan teliti. Hingga akhirnya mendapat nilai A untuk skripsiku.

Lulus dari STP Nusa Dua Bali, sekali lagi aku harus bersaing dengan satu orang dari Glion, Swiss untuk mendapatkan posisi sebagai HR and Learning Assistant di Ritz Carlton Jakarta. Berbekal pengalaman sebelumnya, ditambah dengan restu orang tua akupun dengan percaya diri menghadapi seleksi untuk posisi itu. Dan sekali lagi, menjadi bagian dari STP Nusa Dua Bali telah membuatku begitu bangga karena akhirnya akulah yang mendapatkan posisi tersebut di Ritz Carlton. Tanpa STP Nusa Dua sangat mustahil aku menjadi salah satu pengambil kebijakan di Ritz Carlton saat ini.
Dan mungkin, tanpa STP Nusa Dua Bali aku takkan menjadi seorang penulis yang karyanya diterbitkan Elex Media Komputindo dan dijual di seluruh buku Gramedia se-Indonesia. Sebuah karya yang kuberi nama “Jangan Bodoh Mencari Jodoh”. Karena 90 persen tulisanku di buku itu aku selesaikan ketika masih berpredikat sebagai Mahasiswa Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua.

Aku yang awalnya ragu, sekarang menjadi amat mantap merekomendasikan STP Nusa Dua Bali sebagai salah satu Sekolah penghasil putra-putri bangsa terbaik saat ini. Kemana suara-suara sumbang yang kudengar saat awal kudengar ketika Aku memutuskan untuk sekolah di STP Nusa Dua? Mereka terbagi dua golongan. Golongan pertama adalah yang menjadi mahasiswa abadi, dan golongan kedua menjadi pengacara (pengangguran banyak acara).
Aku bangga menjadi alumni Sekolah Pariwisata terbaik di Nusantara. Aku tak ragu menyebutku sebagai seorang Brand Ambassador Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua. Dan sekarang dengan lantang aku bisa berkata “I cant imagine a world without STP Nusa Dua, Bali.”
Terima Kasih STP Nusa Dua.

Follow Twitterku di @BriliAgung

CEO Inspirator Academy, penulis 6 buku, co-writer 17 buku artis, pengusaha, dan trainer.

Kios Untuk Ayah

Apakah benar hidup bermula di usia 40 tahun? Banyak sekali yang berkata kepada saya demikian. Bisa jadi ada benarnya, bisa jadi tidak berlaku bagi sebagian besar orang. Coba lihat sekeliling kita saat ini, apakah saudara…

Kamukah Salah Satu Gelandangan Itu? – Properti

https://finance.detik.com/properti/3744907/95-kaum-milenial-terancam-jadi-gelandangan-di-2020 Belakangan saya sering membuat survey atau polling mengenai properti. Kamu tahu kenapa? Ya tentu saja berawal dari kegelisahan saya ketika membaca liputan khusus koran kompas bulan februari kemarin, ditambah berita penegasan dari detik.com ….

#JumuahBerfaedah – Mamah dan Anak Buangannya.

Dari usul status FB dan IG Story saya pagi tadi, saya memilih tema Ibu untuk saya ceritakan di Jumat  ini. Saya memiliki hubungan yang unik dengan Ibu (yang biasa saya panggil Mamah). Relationship saya dengan…

#JumuahBerfaedah – Berorganisasi, Bersilaturahmi, Bersinergi.

Saya adalah orang yang sangat percaya dengan kekuatan silaturahmi. Bagaimana silaturahmi menjadi pintu paling juara untuk membuka rezeki. Aku mengalaminya sendiri. Seorang Brili bisa menjadi seperti ini pun, asbab silaturahmi. Alhamdulillah, karena ketetapanNya, silaturahmi yang…

Alien Dalam Dunia Penulis (Tere Liye)

Saya tidak kaget dengan heboh pernyataan Bang Tere Liye kemarin. Karena saya mengikuti pemikiran sekaligus langkah yang ditempuhnya soal keadilan bagi penulis. Termasuk audiensi yang saya lakukan Maret lalu kepada Pak Hestu Yoga selaku Direktur…

2 comments

    Menurut bapak seberapa sulit tes masuk STP Bali ?
    Kira2 dng kemampuan saya yg buiasa2 saja bisa diterima di sana ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *