Akhirnya! Langkah Mudah Membuat Tulisan Serupa Film Terungkap!

Again! Inspirasi tulisan ini saya dapatkan ketika sedang memberikan feedback kepada mentee-mentee di program bimbingan menulis Kelab Penulis Muda.

Baik mereka yang menulis fiksi maupun non fiksi, rata-rata masih memiliki penyakit yang sama. Membuat saya mengeriyitkan kening, lalu memutuskan untuk bosan dan tidak membaca lebih lanjut. Penyebabnya satu : Penulisnya MALAS menjabarkan perasaan tokohnya.

Contoh :

“Dia begitu marah, sangat marah sampai wajahnya memerah.”

“Dia bahagia sekali hari ini. Bahagianya hingga ubun-ubun.”

Seperti yang Anda tahu berikutnya, Saya bosan membacanya.

Come on guys, buat tulisanmu lebih bernyawa. Dan memberi nyawa pada cerita atau tulisan ini mudah sekali. Yang kamu lakukan cukup menjabarkan perasaan si tokoh.

Bagaimana marahnya orang itu? Apa tindakannya kalau marah? Mengapa dia marah? Gimana menggambarkan marah tanpa harus menulis kata ‘marah’? Terus, kalau tokoh A senang, apa yang dia lakukan karena senang? Apakah wajahnya berseri-seri? Apakah dia bertepuk tangan? Apakah dia berlari lalu memeluk pacarnya, apakah dia kehilangan kata-kata saking senangnya? Gimana? Gambarkan. Tunjukkan kepada kami, pembaca, bagaimana dan apa yang mereka lakukan.

Buat seakan-akan pembacamu tidak sedang diuguhi tulisan, namun sedang menonton FILM. Itulah kenapa tulisan seperti ini disebut FILMIS!

Yuk, kita belajar bareng bagaimana membuat tulisan ini filmis.

Mendeskripsikan : Marah

“Satu tahun aku sabar menunggumu di rumah. Dan ini balasanmu?”

Dia kehabisan kata-kata. Mulutnya setengah mengaga tanpa suara. Aku berusaha mengontrol suaraku supaya nadanya tak meningkat di setiap kata yang aku ucapkan.

“Aku tak menyangka, kesetiaanku kau bayar dengan hal menjijikan seperti ini!”

Dia masih tak menjawab. Kali ini, pandangannya terarah ke tembok. Bukan ke mataku. Mungkin di matanya, mataku sudah mengeluarkan panah-panah api. Padahal aku masih bisa mengendalikan diri.

“Kau sedang berbicara dengan manusia mas. Maka, lihat manusia yang mengajakmu berbicara. Bukan ke tembok.”

Pandangannya tetap saja mengarah ke tembok. Kali ini bagian bawah tembok yang dia tatap. Buatku, saat ini dia sudah berubah menjadi tikus yang terpojok di ujung ruangan. Tak bisa berkutik. Tak bisa ke mana-mana. Tinggal menunggu sang ular mencaploknya.

“Aku tak akan mengulang kalimatku lagi. Tatap aku. Setan mana yang merasukimu hah? Setahun kau bilang padaku mau mencari nafkah yang bisa membahagiakan keluarga, dan ini hasilnya hah?!”

Aku menatapnya dari ujung kaki hingga kepala. Bergidik jijik aku melihatnya. Rasa jijikku tak sebanding dengan rasa hatiku yang tertusuk telak. Laki-laki gagah yang dulu menikahiku kini membuat perutku mual. Tanpa melihatnya, aku bisa mencium bau parfum menyengat dan murahan. Rambutnya sekarang di blow dan di cat merah, dan itu bukan wig! Dadanya? Silikon palsu itu membuatnya lebih besar dari dadaku. Belum lagi stocking, baju U can see , dan hot pants pelanginya yang semakin lama aku lihat semakin memuakkan. Semakin membuat api di dadaku meletup-letup ingin melenyapkannya dari dunia.

Vas bunga disampingku, kuraih dan kulempar ke wajahnya. Pecah. Berantakan. Telak menghantam wajahnya hingga sekarang maskara di wajahnya bercampur darah. Aku akan membuat dia menjadi laki-laki lagi. Dengan tambahan luka dan darah di sekujur tubuhnya.

Mendeskripsikan: Tegang

PENCARIAN

Aku harus melompat pagar setinggi badanku untuk masuk ke halaman bangunan itu.. Sebisa mungkin langkahku tidak melahirkan suara. Pelan. Melupakan rasa gatal yang meraja saat ilalang-ilalang berebutan menggaruk tangan dan kaki. Ada yang lebih penting. Jawaban yang aku cari, ada di balik pintu merah di depanku.

Derit mengerikan saat aku mendorong pintu merah membuatku menelan ludah. Dentaman jantung tak mengizinkanku mendengar otak yang memerintahkanku untuk tetap tenang. Baru lima langkah masuk ke dalam ruangan gelap itu, aku sudah terloncat karena pintu di belakangku terbanting dengan keras. Otakku berteriak-teriak, menyuruh jantungku berhenti berdetak sedemikian cepat. Percuma. Ia justru melawan.

Keringat mulai berkumpul di telapak tangan saat aku masuk makin ke dalam ruangan ini. Bau debu membuat tenggorokanku kering. Sinar matahari yang menerobos lewat genting yang pecah tak membantu sama sekali. Di depan lemari reyot itu aku berhenti. Pencarianku mungkin akan selesai di sini. Seluruh bagian tubuh terasa kaku, berat, tak mampu kugerakkan, bahkan untuk sekadar meraih pegangan lemari yang terbuat dari kuningan. Lalu, terdengar suara lain selain detak jantungku. Pistol yang dikokang.

Saat itu juga, hening yang aku harapkan sedari tadi menyeruak. Tak kurasa suara jantungku lagi. Ia berhenti. Begitu saja. Telapak tanganku makin basah. Lutut gemetar. Aku bergeming. Membatu. Tak berani menjemput kematian dengan membuat gerakan tiba-tiba. Darahku rasanya sudah berhenti mengalir. Dinginnya pelatuk yang menekan erat pelipisku membuat otakku memberikan perintah lain: waspada. Jangan gegabah.

“Orang yang mencari, biasanya akan bertemu dengan dua hal: mendapatkan, atau malah kehilangan. Kau beruntung mendapatkan hal kedua.”

Seluruh tubuhku mengejang saat mendengar suara serupa parang dingin lelaki di sampingku. Suaranya menusuk dari ulu hati menembus ke punggung. Aku memperhitungkan dua hal. Maju ke depan untuk menghindari pelatuk pistolnya, atau langsung mematahkan tangannya dengan satu gerakan kilat. Salah bertindak, artinya aku akan terkapar di lantai yang penuh kotoran kecoa dan tulang tikus ini.

Jantungku kembali berdentam-dentam. Adrenalin terpompa deras. Telapak tangan semakin berkeringat. Pupil mata melebar. Jalan keluar ketiga yang kupilih. Aku menendang seiring letusan yang membuat telingaku dihantam godam. Menyaksikan tubuhnya melayang dalam gerak lambat tak mampu membuatku bertindak secepat yang aku ingin. Dengan satu salto yang sempurna, ia bukan hanya kembali tegak berdiri, namun tetap mampu menggenggam erat pistolnya. Letusan kedua terdengar. Setelah itu hening. Ubin berdebu tebal terasa dingin di pipiku dan warnanya memerah.

Mendeskripsikan: Malu

PUASA

Bagiku, puasa adalah cobaan sesungguhnya.

Akan banyak orang yang mencibir pernyataan di atas. Tetapi mereka mungkin belum merasakan bagaimana menjadi seperti aku. Terlahir dengan kapasitas lambung yang dua atau tiga kali lipat dari orang biasa. Memiliki diameter mulut seukuran genggaman tangan. Dan juga nafsu makan yang mengerikan.

Seperti saat ini. Di depanku berjejer satu mangkok mie ayam dengan asap mengepul menari. Satu gelas jumbo es kelapa muda lengkap dengan gula-gula. Plus satu bucket es krim coklat yang takkan lama lagi di lidahku menggeliat nikmat.

Tidak ada yang salah dengan semua ini. Andai hari ini bukan hari di pertengahan bulan Ramadhan. Andai aku bukan anak abah yang seorang kyai pemilik pesantren. Andai aku bukan ketua Rohis di sekolah.

Kiamat kecil terjadi ketika pintu kamar terbuka dan teriakan umi mengalahkan seruputan, kunyahan dan sendawa. Kalang kabut aku mencoba melakukan banyak hal sekaligus: mendorong mangkok ke kolong kasur, menelan cepat apa yang di mulut, dan menutupi semua sisa makanan dengan selimut. Semuanya gagal. Tanganku tersangkut tak bisa bergerak. Mangkok mie ayamku jatuh terbanting, lelehan ice creamku mendarat sempurna di sprei yang baru saja selesai dicuci, es kelapa mudanya? Hanya tinggal sisa-sisa di atas karpet. Wajahku gagal menampakkan raut santai. Aku bahkan bisa merasakan panas yang menjalar dengan cepat di seluruh wajahku. Aku yakin, saat ini wajahku sudah merah membara. Kau bisa menggoreng telur di wajahku jika mau.

Betapa aku berharap aku bisa lenyap saja ke dasar Bumi daripada harus menghadapi dan menatap wajah Ibu yang mendelik lalu berlari membanting pintu kamar sambil menjerit memanggil Ibi. Betapa aku ingin kembali ke tiga puluh menit lalu dan mengingatkan diriku yang tengah bersiap memulai rutinitas harianku selama Ramadhan untuk mengunci pintu. Aku tak tahu, setelah ini bagaimana cara menghadapi Ibu dan menatap matanya? Bagaimana aku meyakinkan Ibu untuk tak menceritakan apa yang beliau lihat ke Adik-adikku? Bagaimana cara untuk lenyap? Bagaimana?

—-

Nah, itulah contoh bagaimana kita bisa menguraikan cerita kita menjadi lebih filmis.

Selalu ingat : Show me, don’t tell me!

CEO Inspirator Academy, penulis 6 buku, co-writer 17 buku artis, pengusaha, dan trainer.

Diary Penulis Biografi –Klien Pertama Untuk Ghostwriter Pemula

Diary Penulis Biografi –Klien Pertama Untuk Ghostwriter Pemula Selamat malam writers! Ada yang unik minggu ini. Tak ada angin dan tak ada hujan, ada dua gadis mengontak saya untuk berdiskusi 1 pertanyaan yang sama. Satu…

Diari Penulis Biografi – Wujud Paling Tinggi Dari Cinta

Dalam tulisan saya DI SINI , saya pernah menuliskan bahwa hal yang paling saya syukuri dari menjadi co/ghost writer / penulis biografi adalah bisa bertemu sekaligus berinteraksi dengan banyak orang berilmu. Bisa face to face empat…

Dilan 1990 . Menulis Cerpen Atau Novel Based On True Story? Ini Resikonya!

Foto diambil dari sini Ketika membaca ini, apakah kamu termasuk salah satu dari 4.000.000 penonton yang sampai hari ini sudah menonto Film Dilan 1990? Atau baca novelnya? Sampai sekarang baik novel dan filmnya masih laris…

#JumuahBerfaedah – Indonesia Timur Dan Senyum Yang Tumpah

Apa yang paling kamu syukuri Jumat ini? Jika kamu bertanya kepadaku, yang paling kusyukuri adalah telah terbitnya buku ke- 28 dan buku ke-29. Ya, kedua buku tersebut resmi lahir di waktu berdekatan dengan lahirnya buku…

Pengumuman Project Subuh, Cinta, Dan Rahasia

Akhirnya selesai sudah proses penilain project Subuh, Cinta, dan Rahasia yang penuh drama ini. Sempat tertunda seminggu, akhirnya 17 Oktober 2017 hasilnya bisa direlease.   Drama pun tidak berhenti sampai situ. Ternyata  setelah pengumuman tanggal…

4 comments

    Kereen banget sih! Bisa banget menguraikan kata-kata yang bikin pembaca bayangin sendiri situasinya. You are the best!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *