Nasi Goreng Bumbu Ketulusan

Nasi Goreng Bumbu Ketulusan

Beberapa waktu yang lalu aku sempat bercerita di twitter tentang sebuah warteg yang membuat ku ketagihan makan disana.. Bukan karena makanannya yang enak atau harganya super murah, tapi karena si ibu yang melayani setiap pelanggan yang datang bak anak kandungnya sendiri,,

Kejutan-kejutan ketulusan yang si Ibu hadirkan sampai pada level membuatkan sambal terasi khusus untukku. Sambal terasi yang memang sengaja dibuat saat aku datang. Sengaja diulek dan dihidang dengan cobek nya agar rasa aslinya tidak hilang.

Warungnya sederhana. Warung kayu yang terlihat sempit dari luar. Dengan cat hijau yang sedikit mengelupas karena dimakan usia, deretan masakan berbagai variasi berjejer rapi di etalasenya. Mengundang selera. Si Ibu jika pagi hari dibantu oleh anak laki-laki dan cucu perempeuannya. Semua orang yang datang aku perhatikan memanggil dia nenek. Dan dia selalu membalasnya dengan panggilan “nak” ke semua pelanggan nya.

Satu ketika aku sengaja datang kesana selepas maghrib. Memang pagi hari sebelumnya Nenek menawariku untuk datang sore hari. Dia berjanji untuk membuatkanku nasi goreng spesial. Jadi mumpung sore itu aku sedang libur kuliah, maka aku menepati janjiku untuk berkunjung ke warung sederhana nya.

“Eh, nak.. datang juga.. Ayo duduk-duduk.. mau minum apa?”

“Teh manis anget mawon bu.. gulane sekedik mawon nggeh..” (teh manis hangat aja bu, gulanya sedikit saja ya..”)

“Mau makan apa nak?” Tanyanya dengan penuh kehangatan. Seperti seorang nenek yang telah lama tak berjumpa cucunya.

“Nasi goreng saja Bu. Pedes ya..” Kataku sambil cengar-cengir

“Tapi nunggu sebentar ga papa ya nak.. “

“Ga papa bu..”

“Ini makan dulu, kue donat yang baru matang.. Cicipi yo le.. Sambil nunggu” Nenek menyodorkan beberapa kue donat dalam piring beserta gula halusnya.

Walaupun usianya aku taksir sudah mencapai 60an tahun, Nenek masih dengan lincahnya memindahkan wajan, dan meracik bumbu nasi goreng sendirian. Kalo soal masak, gerakannya masih lincah dan terlihat begitu terampil memainkan penggorengan.

IMG00303-20130605-1816
Nenek sedang meramu nasi goreng istimewa nya

“Bu, biasanya cucu dan anak Ibu pulang jam berapa?”

“Anak sama cucuku kerjo le.. Mulih biasa ne jam 9an.. “ (Anak cucuku bekerja, pulang biasanya jam 9an.

“Keluarga Ibu dimana to bu?”

“Sebagian besar di Palembang nak.. Tapi Ibu yo asline Jombang..”

“Berarti dari siang sampe malam Ibu sendirian to jaga warung?” selidikku

“Iyo le,,dulu ada yang membantu, tapi malah merepotkan.. Sampe aku sing ngumbaih klambine,,” Kata Ibu tertawa kecil.

Ternyata dulu dia sempat punya pembantu. Tapi karena pembantu nya itu malas dan tidak cekatan, justru akhirnya Nenek lah yang bahkan sampai mencucikan bajunya.

“Pake ayam le?” Tanya Nenek.

“Boleh bu..” Ah, wajar kalo nasi goreng ada suwiran ayamnya..

“Iki le.. Wis mateng nasi goreng e.. Iki sambel teri, kalo kurang pedes, dan Iki lalapan e.” Nenek tiba-tiba membombardir meja ku dengan suguhan makanan. Ini baru pertama kali aku makan nasi goreng yang juga ditemani lalapan dan sambal teri.

Komplit dengan sambel teri nya..
Komplit dengan sambel teri nya..

Dan yang membuat mataku terbelalak adalah di piring itu tidak terdapat suwiran ayam. Tapi dua satu potong paha ayam dan sayap ayam. Belum lagi ditambah telur dadar yang sudah dipotong-potong. Dan masih ada juga orek tempe yang ditempatkan di sisi piring.

Wow, ini sih bukan nasi goreng super spesial lagi, ini sudah nasi goreng istimewa..

Tampak dekat.. Perhatikan ayam nya.., :9
Tampak dekat.. Perhatikan ayam nya.., :9

Aku yang sebenarnya ketika datang kesini tidak dengan rasa lapar, tiba-tiba rasa lapar itu datang dengan membabi buta, I eat like there is no tomorrow.

Sambil makan aku melihat bagaimana si nenek melayani pelanggannya yang datang sesekali. Hanya untuk membeli kue donat, membeli nasi bungkus, ataupun hanya secangkir kopi. Aku melihat ada nada sayang dari setiap pelanggan yang datang bercakap dengannya. Hal yang amat langka aku jumpai di Ibu kota.

Mungkin dengan memberikan peerhatian layaknya seorang Ibu terhadap anaknya kepada semua pelanggannya, si nenek menemukan kebahagiaannya. Dengan cara seperti itulah dia mengisi kekosongan hatinya. Kesepian masa tuanya tanpa sebagian besar keluarga yang mengelilinginya. Keuntungan rupiah aku rasa hanyalah side effect belaka untuknya.

Satu piring nasi goreng istimewa sudah tandas. Piring besar itu sekarang sudah licin meninggalkan sedikit sisa minyak. Aku menghabiskan teh panasku dan mulai beranjak..

“Berapa Bu semuanya?” aku bertanya.

“Uwis ga usah le.. ga po po..” (Udah, ga usah nak,, Ga papa)

“Lho, ga bisa begitu Bu,,, pinten sedoyo niki Bu?” (Berapa semuanya ini Bu?) aku juga ga bisa kalo makan disini gratisan. Dengan pelayanan seperti ini, aku sudah siap untuk membayar mahal. Berapapun harganya..

“Uwis, sa’karepmu ae nak… Sepiro ono ne..” (Udah, terserah kamu aja nak.. Seadanya aja ) Nenek tetap bersikeras..

“Jangan begitu Bu.. Nanti Ibu rugi, saya yang ga bisa tidur..” Aku mulai memelas..

“Ya udah, 10.000 ae..” Kata si Nenek akhirnya menyebutkan harga,,

What? Nasi goreng super spesial bin istimewa dengan rasa pedas menggelegar plus plus itu cuma dihargai 10.000???!!! Omaigat Omaigat! Aku ingin bertanya kepada Nenek, “beneran ini bu?” Tapi aku justru takut dia malah menurunkan lagi harganya,,

Akhirnya aku mengangsurkan uang 10.000 itu ke si Nenek.

“Maaf ya nak.. Uangnya nenek terima..”

Ingin rasanya aku menampar pipiku berulang kali. Sebenarnya sedang di planet apa aku hidup? Di negara mana aku berada? Aku tak percaya masih ada sebuah ketulusan dan perhatian yang benar-benar menyentuh macam ini. Sebuah arti kebahagiaan yang tak aku dapat di bangku kuliah manapun.

Dan justru aku dapatkan dari sepiring nasi goreng istimewa bumbu ketulusan ini…

CEO Inspirator Academy, penulis 6 buku, co-writer 17 buku artis, pengusaha, dan trainer.

Cerita Dari Dirigen Oli Bekas

Cerita Dari Dirigen Oli Bekas Beberapa hari yang lalu mungkin teman-teman tahu bahwa saya menginisiasi donasi untuk membantu seorang anak bernama Latif. Sebuah video viral di social media memperlihatkan dia sedang dipaksa menyiram oli bekas…

Kios Untuk Ayah

Apakah benar hidup bermula di usia 40 tahun? Banyak sekali yang berkata kepada saya demikian. Bisa jadi ada benarnya, bisa jadi tidak berlaku bagi sebagian besar orang. Coba lihat sekeliling kita saat ini, apakah saudara…

Kamukah Salah Satu Gelandangan Itu? – Properti

https://finance.detik.com/properti/3744907/95-kaum-milenial-terancam-jadi-gelandangan-di-2020 Belakangan saya sering membuat survey atau polling mengenai properti. Kamu tahu kenapa? Ya tentu saja berawal dari kegelisahan saya ketika membaca liputan khusus koran kompas bulan februari kemarin, ditambah berita penegasan dari detik.com ….

#JumuahBerfaedah – Mamah dan Anak Buangannya.

Dari usul status FB dan IG Story saya pagi tadi, saya memilih tema Ibu untuk saya ceritakan di Jumat  ini. Saya memiliki hubungan yang unik dengan Ibu (yang biasa saya panggil Mamah). Relationship saya dengan…

#JumuahBerfaedah – Berorganisasi, Bersilaturahmi, Bersinergi.

Saya adalah orang yang sangat percaya dengan kekuatan silaturahmi. Bagaimana silaturahmi menjadi pintu paling juara untuk membuka rezeki. Aku mengalaminya sendiri. Seorang Brili bisa menjadi seperti ini pun, asbab silaturahmi. Alhamdulillah, karena ketetapanNya, silaturahmi yang…

6 comments

    teacher,,,,,,,,,,,,,,postingan ini mengingatkanku sama ibu xg jualan nasi bungkus sama gorengan pas kost dijember dulu……

    Aku juga gak nyangka mas,,ternyata aku masih bisa bertemu seorang ibu yang baik banget,,tiap beli nasi bungkus slalu dikasih gorengan,, tambahan kerupuk. i like this post….

    tapi saya terharu dengan mbahnya, sudah tua tapi masih kuat untuk berjualan nasi….it’s so touching heart,,,

    Assalamualaikum wr wb.

    Kayaknya tu nenek rindu sama keluarganya yang mirip sama kamu…!
    Dan orang itu pasti orang yg spesial baginya, makanya ia memberimu nasi goreng super spesial. Coba aza tanyakan…?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *