Tentang Memilih dan Dipilih

Berbicara tentang memilih dan dipilih, ini sama artinya dengan berbicara kesiapan. Kesiapan untuk diterima, atau kesiapan untuk mencerna makna, “ini belum saatnya.”

Dan hei, saat ini saya sedang membahas hubungan antara laki-laki dan perempuan. Dimana keduanya memiliki senjata yang sama kuatnya. Sama-sama menentukan masa depan siapa yang dihadapinya.

Jika lelaki memiliki senjata bernama “memilih” , maka wanita pun memiliki senjata yang bernama “menentukan”.

Kadang wanita suka komplain mengenai lelaki yang bebas memilih siapa gadis yang ingin dia lamar untuk melengkapi separuh agamanya. Sedangkan wanita dalam pemikirannya, “Hmm.. Apa kata dunia jika wanita yang bergerak dan bicara duluan?!”

Dan hal seperti inilah yang membuat sebagian wanita melupakan senjata mematikannya yang bernama menentukan. Wanita (mungkin) terbatas akan pilihan. Tetapi kata-kata “Iya” dan “Tidak” nya itu bagai pembacaan vonis hakim pengadilan bagi laki-laki. Jawaban “Iya” dan “Tidak” nya seorang wanita akan mengakhiri drama panjang yang bernama penantian.

Kemudian, pihak wanita pun masih berteriak. Namun senjata “memilih” nya laki-laki bisa disalah gunakan. Bisa jadi dia memiliki banyak pilihan bukan? Menebar bibit bersemai harapan, yang ketika sudah terlanjur tumbuh ternyata puso. Kosong. Itu tidak adil namanya.

Namun wanita kadang lupa dalam senjatanya ada fitur mematikan yang juga rentan disalahgunakan. Fitu itu bernama…

“Menggantungkan”

Duh, menuliskannya saja sudah membuat saya merinding disko. Ngeri-ngeri sedap!

Lazimnya, seperti surga dan neraka, jawaban untuk lamaran lelaki itu hanya ada dua. Ya dan tidak. Lanjut atau mundur. Namun sebagian wanita bisa menyalahgunakannya dengan,

“Belum bisa menjawab”

“Beri aku waktu” (Yang entah sampai kapan, tidak ada pemberitahuan. Dan hey, its unfair)

Dan

“Kita jalani dulu saja ya..”

Jangan kira jawaban-jawaban menggantung itu akan berdampak biasa saja bagi kami para lelaki. Sungguh, kami para lelaki lebih siap untuk menerima jawaban “tidak” daripada “Iya” pun ngga, “Tidak” pun belum. Sebuah simalakama yang sempurna.

Well, dunia ini adil. Lelaki dan perempuan sama-sama punya senjata. Yang juga sama-sama bisa disalahgunakan. Paling tidak, setelah kamu baca tulisan ini maka kamu bersyukur punya senjatanya. Dan yang paling penting. Buang jauh-jauh niat untuk menyalahgunakannya.

CEO Inspirator Academy, penulis 6 buku, co-writer 17 buku artis, pengusaha, dan trainer.

Alien Dalam Dunia Penulis (Tere Liye)

Saya tidak kaget dengan heboh pernyataan Bang Tere Liye kemarin. Karena saya mengikuti pemikiran sekaligus langkah yang ditempuhnya soal keadilan bagi penulis. Termasuk audiensi yang saya lakukan Maret lalu kepada Pak Hestu Yoga selaku Direktur…

LAPORAN PAKET BERBUKA GOES TO DESA 2017

Nabi SAW bersabda: “ Sesungguhnya sedekah itu benar-benar akan dapat memadamkan panasnya alam kubur bagi penghuninya, dan orang mukmin akan bernaung dibawah bayang-bayang sedekahnya, “ – HR. At-Thabrani   Alhamdulillah Terimakasih tiada terkira bagi semua…

Update Paket Berbuka Goes To Desa 2017

Assalamualaikum Saudaraku… Apakah kita masih diberi kesempatan untuk bertemu Jumat lagi minggu depan? Atau Ramadhan lagi besok? Tak ada yang tahu perihal ini kecuali DIA yang Maha Mencipta. Yang bisa kita lakukan hanyalah berusaha melakukan…

Ketika Kita Mau Mendengar Dan Mengenal

Tidak selamanya putih itu bersih, karenanya jangan mau kita dikotak-kotakan. Sebuah obrolan sebelum dan sesudah jumatan kemarin membuka mata saya mengenai hakikat perbedaan. Saya berkesempatan untuk mengobrol dengan seorang Ketua salah satu organisasi sayap partai…

25 Naskah Pemenang Project Hujan, Mantan, Masa Depan

Finally!!! Sumpah saya deg-degan mati ketika menunggu hasil penjurian dari 3 editor dari major publisher! Terima kasih atas waktu dan energinya untuk : Mas Tri – Pimred Gradien dan Indonesia Tera Mas Adham T Fusama…

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *