Tunjukan Saja, Jangan Diberitahukan

Oke, masuk ke tulisan ketiga bulan ini. Dan sesuai dengan tema bulan ini yaitu “Everything About Writing” maka posting kali ini masih tentang dunia penulisan. Pokoknya setelah kelar sebualan baca postingan di blog ini kamu punya bekal lebih banyak untuk mulai perjalananmu menjadi seorang Penulis.. Amiiiinnn…

Jujur, aku sering sekali membaca sebuah tulisan, entah itu fiksi, ataupun nonfiksi, lalu mengernyitkan kening, karena penulisnya tidak membuatku ingin membaca lebih lanjut. Biasanya tulisan semacam itu hanya berakhir di tumpukan buku dengan halaman awal yang terlipat. Entah kapan lagi aku akan melanjutkannya…

Dan! Salah satu penyebabnya, para penulis disana malas menjabarkan perasaan para tokohnya.

Misal, saat si tokoh sedang marah, ditulis begini,

“Dia sangat marah. Dia marah sekali sampai dia tak mampu berkata-kata ..”,

atau,

 “Dia takut setengah mati karena melihat pacarnya memergokinya berselingkuh..”,

atau,

 “Hari ini dia gembira. Statusnya udah ga jomblo lagi. Dia gembira…gembira..gembira..”

Dan Aku bosan membacanya. Sama bosannya seperti melihat pasangan yang pacaran di Twitter atau FB.

Tulisanmu akan lebih bernyawa, kalo kamu sedikit lebih sabar untuk menjabarkan perasaannya. Lihat novel-novel best seller! Pengarangnya selalu telaten dan mau untuk mencoba bersabar menjabarkan perasaan atau kejadian yang dialami oleh tokohnya..

Bagaimana marahnya orang itu? Apa tindakannya kalau marah? Mengapa dia marah? Gimana menggambarkan marah tanpa harus menulis kata ‘marah’? Terus, kalau tokoh A senang, apa yang dia lakukan karena senang? Apakah wajahnya berseri-seri? Apakah dia bertepuk tangan? Apakah dia berlari lalu memeluk pacarnya, apakah dia kehilangan kata-kata saking senangnya? Gimana? Gambarkan. Tunjukkan kepada kami, pembaca, bagaimana dan apa yang mereka lakukan.

Jangan menjadi penulis yang egois karena menganggap pembaca otomatis sudah tahu apa yang kita pikirkan. Halooooo ga semua pembaca tulisanmu itu Deddy Corbuzier atau para mentalist tukang sulap.

Di bawah ini, adalah contoh tulisan gue ketika masih menjadi siswa di Jakarta School. Kami ditugaskan mendeskripsikan perasaan, tanpa memakai kata sifat yang dimaksud. Misalnya, mendeskripsikan ‘takut’, atau ‘malu’, atau  ’tegang’, tapi nggak boleh pakai kata ‘takut’, ‘marah’, ‘tegang’. Biarkan pembaca yang mengambil kesimpulan apa yang sedang karakternya rasakan.

Yuk, belajar bareng-bareng mendeskripsikan perasaan.

Mendeskripsikan: Sedih.

Kakinya gemetar, mungkin ia tak lagi sanggup untuk menahan semua beban yang serentak meluluhlantakkannya hari itu. Kepalanya mendongak mencoba menemukan sebuah wajah di tengah awan yang berarak. Sayangnya ia tak mampu menemukan wajah yang begitu ia cintai disana. Kawanan buih ombak takut-takut mulai menyapa kulit lembut kaki laras. Tapi gadis itu tetap tak beranjak. Air laut yang mengenai mata kakinya justru memancing deburan ombak yang lebih kencang di pelupuk matanya.

Laras menatap lekat cakrawala di ujung garis samudra. Dia begitu berharap Neptunus akan muncul dan menyapanya, mengobrol dengannya, dan membawa serta kesedihannya ke dalam palung lautan terdalam di jagat Raya.

“Wahaai cantik, apa yang memuatmu gundah gulana?” Neptunus tersenyum lembut menyapanya.

“Tidak apa. Aku hanya sedang kehilangan. Wajar kan kalo aku sedih?” Tanpa senyuman Laras menjawab.

“Nampaknya kau begitu mencintai apa yang hilang dari dirimu..” Neptunus menyimpulkan.

Tanpa ada komando, lagi-lagi awan hitam menjelma hujan deras di mata Laras dan bergegas meliuk-liuk di sepanjang pipi.

“Apa aku salah begitu mencintainya Nep? Ku serahkan hatiku semua untuknya, dan sekarang saat ia pergi aku begitu kehilangannya! “ Laras setengah menjerit tanpa peduli air mata menerobos ke rongga mulutnya.

“Laras, semua yang datang pasti memiliki saat dimana ia kan pergi.. Semua sudah tertulis di helaian-helaian takdirNya. Daun yang gugur pun atas kehendak-Nya , kau tau itu..” Neptunus memandang lekat-lekat wajah Laras.

“Apakah kau tau Nep, mengapa aku begitu mencintainya? Karena…Karena.. hanya saat bersamanya aku tak takut untuk menunjukan siapa diriku. Aku merasa bebas dari tuntutan orang-orang kepadaku. Aku menjadi diriku seutuhnya..” Lirih dan sedikit terbata Laras bicara.

“Ya, itulah cinta Laras.. cinta tidak pernah membuatmu takut menunjukkan siapa dirimu sebenarnya.. Jika mengatasnamakan cinta engkau berubah menjadi orang lain, itu dusta namanya. Tidak ada pengekangan dan pemaksaan dalam cinta. Engkau nyaman menunjukan siapa dirimu di depan cinta mu..” Tangan lembut Neptunus membelai rambut panjang Laras. Ah dia pasti cuma sampo, batin Neptunus.

“Tapi…Tapi mengapa harus ada pertemuan jika ditakdirkan ada perpisahan Nep! Sungguh tak adil rasanya, Cinta yang sudah terbangun dengan susah payah harus terempas begitu saja! Aku benci perpisahan…” Setengah memaki Laras menenggelamkan wajahnya di kedua tangkup telapaknya.

Mendeskripsikan: Tegang

Aku tak tahu terbuat dari apa sofa merah ini. Rasanya di pantatku, bantalannya begitu keras dan dingin seperti marmer. Di depanku, seorang lelaki bertubuh subur sedang duduk mengawasi semua gerak gerikku. Sesekali aku melirik dari ujung kelopak mataku, tangannya nampak memelintir dan memainkan kumis hitamnya yang melintang.

Satu dehemannya saja mampu membuat jantungku berdentam dan mengacaukan ketenangan segala penjuru otakku. Otakku berteriak-teriak, menyuruh jantungku berhenti berdetak sedemikian cepat. Percuma. Ia justru melawan.

Keringat mulai berkumpul di telapak tangan saat aku menatap wajahnya.Tanganku tak kuasa berhenti berhenti bergetar saat tanganku menggenggam gelas yang berisi air putih yang disajikan dari tadi. Seluruh bagian tubuh terasa kaku, berat, tak mampu kugerakkan, bahkan untuk sekadar menaruh gelas itu ke tempatnya semula.

Saat itu juga, saat aku membuka mulut dan mencoba mengeluarkan kalimat pertamaku. Aku tak bisa mendengarkan suara jantungku lagi. Ia berhenti. Begitu saja. Telapak tanganku makin basah. Lutut gemetar. Aku bergeming. Kaku. Darahku rasanya sudah berhenti mengalir. Sial, padahal kalimat itu sudah ada di ujung lidahku.

Jantungku kembali berdentam-dentam. Adrenalin terpompa deras. Telapak tangan semakin berkeringat. Pupil mata melebar. Aku memilih untuk menarik nafas sedalam yang kubisa dan kupenuhi pikiranku dengan doa, lalu aku berkata :

“Pak, saya ingin melamar putri Bapak…”

Mendeskripsikan: marah 

“Setelah tiga kali dikecewakan, kamu masih mau memaafkannya?!”

Dia tak menjawab sama sekali. Aku berusaha mengontrol suaraku supaya nadanya tak meningkat di setiap kata yang aku ucapkan.

“Sebenarnya hatimu itu terbuat dari apa? Kamu itu manusia biasa, bukan malaikat!”

Dia masih tak menjawab. Kali ini, pandangannya terarah ke lantai. Bukan ke mataku. Mungkin di matanya, mataku sudah memancarkan nyala api. Padahal aku masih bisa mengendalikan diri.

“Kamu sedang berbicara dengan manusia. Maka, lihat manusia yang mengajakmu berbicara. Bukan ke lantai.”

Pandangannya tetap saja mengarah ke lantai. Melihat wajahnya, dia sudah seperti seekor tikus yang terjebak dalam perangkap yang diisi puluhan kucing kelaparan.

“Sel, kamu bisa aja ngeles ga selesai-selesai. Kamu bisa aja nangis tiap malam sampai bantalmu berubah jadi bubur! Kamu bisa aja makan habisin semua persediaan makanan sebulan di kulkas! Dan kamu juga bisa berpura-pura sudah Move On! Tapi kamu itu adikku satu satunya, aku tahu apa isi hatimu. Kalo kamu terus terusan noleh ke belakang, kamu ga akan pernah bisa maju ke depan secepat apapun kamu mencoba berlari!”

Mungkin kata-kataku terlalu telak untuknya. Sekarang dia mengusap air matanya dengan ujung lengan baju. Tapi sekarang aku tak peduli. Gadis ini tak pernah belajar dari kesalahannya. Sambil kugenggam pintu rumah dengan nada rendah tapi penuh penekanan, di depan wajahnya aku menggeram :

“ Kamu cuma bisa move on kalo kalo kamu memutuskan enough is enough Sel! Rasa ketagihanmu akan sakit hati bukanlah jalan keluar dari kenyataan..”

BUM!

Aku banting pintu di depan wajahnya. Tak peduli akan tangisnya yang semakin kencang aku memutuskan pergi.

—-

Mudah-mudahan tulisan ini membantu buat kamu yang suka nulis, ya.

Ingat… Tunjukkan saja, jangan diberitahukan…

_________________________________________________________________________________________________________________________________

Kabar baik buat kamu yang suka nulis, ini ada sarana yang bisa kamu manfaatkan untuk mengasah skill sekaligus menerbitkan impianmu!

Caranya? Buka dan baca link ni .

 Ditunggu kabar baiknya yaaa :))

 

CEO Inspirator Academy, penulis 6 buku, co-writer 17 buku artis, pengusaha, dan trainer.

Diary Penulis Biografi –Klien Pertama Untuk Ghostwriter Pemula

Diary Penulis Biografi –Klien Pertama Untuk Ghostwriter Pemula Selamat malam writers! Ada yang unik minggu ini. Tak ada angin dan tak ada hujan, ada dua gadis mengontak saya untuk berdiskusi 1 pertanyaan yang sama. Satu…

Diari Penulis Biografi – Wujud Paling Tinggi Dari Cinta

Dalam tulisan saya DI SINI , saya pernah menuliskan bahwa hal yang paling saya syukuri dari menjadi co/ghost writer / penulis biografi adalah bisa bertemu sekaligus berinteraksi dengan banyak orang berilmu. Bisa face to face empat…

Dilan 1990 . Menulis Cerpen Atau Novel Based On True Story? Ini Resikonya!

Foto diambil dari sini Ketika membaca ini, apakah kamu termasuk salah satu dari 4.000.000 penonton yang sampai hari ini sudah menonto Film Dilan 1990? Atau baca novelnya? Sampai sekarang baik novel dan filmnya masih laris…

#JumuahBerfaedah – Indonesia Timur Dan Senyum Yang Tumpah

Apa yang paling kamu syukuri Jumat ini? Jika kamu bertanya kepadaku, yang paling kusyukuri adalah telah terbitnya buku ke- 28 dan buku ke-29. Ya, kedua buku tersebut resmi lahir di waktu berdekatan dengan lahirnya buku…

Pengumuman Project Subuh, Cinta, Dan Rahasia

Akhirnya selesai sudah proses penilain project Subuh, Cinta, dan Rahasia yang penuh drama ini. Sempat tertunda seminggu, akhirnya 17 Oktober 2017 hasilnya bisa direlease.   Drama pun tidak berhenti sampai situ. Ternyata  setelah pengumuman tanggal…

5 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *