Jembel-Jembel Bermeterai

  Di sebuah trotoar yang sudah disesaki pedagang kakil lima, Pria paruh baya itu menengok ke samping kanan kiri. Wajahnya dipenuhi butir-butir keringat sebesar biji jagung. Alisnya naik, nafasnya tersengal satu dua. Matanya tiba-tiba tertuju…

Air Mata Di Batas Senja

Yap! Sama seperti postinganku sebelumnya yang berjudul Lelaki Yang Memeluk Pagi, cerpen ini juga dipersembahkan oleh keisenganku memancing teman-teman di twitter buat urunan kalimat dan kemudian aku rangkai menjadi sebuah cerita baru. Ini kalimatnya: seharusnya…

Lelaki Yang Memeluk Pagi

Pagi ini, entak kenapa aku ingin menulis sesuatu yang berbeda. Ingin menulis yang diluar kebiasaanku tiap harinya. Penulis juga manusia biasa, butuh hiburan saat ide-ide dirasa mulai memudar. Jadi iseng-iseng aku pancing follower ku untuk…

Plakat Tanda Jasa

  Aku duduk termangu. Dengan tatapan sayu kupandang semua benda yang siang itu sengaja kujejerkan di sebuah trotoar dekat Malioboro, Jogja. Sengatan matahari yang begitu menyengat tak kuhiraukan. Semakin dalam kupandangi benda-benda ini, tiba-tiba memoriku…