Jembel-Jembel Bermeterai

 

Di sebuah trotoar yang sudah disesaki pedagang kakil lima, Pria paruh baya itu menengok ke samping kanan kiri. Wajahnya dipenuhi butir-butir keringat sebesar biji jagung. Alisnya naik, nafasnya tersengal satu dua. Matanya tiba-tiba tertuju pada sebuah gang kecil 50 meter di depannya. Tanpa menunda waktu dia berlari dan masuk menelusuri nya.

Laki-laki itu mengenakan kaos berwarna coklat kumal. Celana pendek compang camping lengkap dengan topi yang di sablon sebuah merk dagang produk minyak goreng dalam negeri. Dia terlihat tak ingin berhenti berlari. Ada sesuatu yang melipatgandakan tenaganya. Dia sendiri bingung darimana tenaganya berasal. Karena sedari pagi dia belum memasukkan satu makanan pun ke dalam lambungnya.

Laki-laki itu akhirnya menyerah pada rasa panas yang mencambuk kulitnya. Dia berjongkok di sebelah gerobak penuh berisi sampah yang diparkir begitu saja di sebuah jalan sempit bantaran kali.

Nafasnya memburu. Matanya tetap awas mengawasi jalan sempit temapt dimana dia berasal barusan. Setelah ratusan helaan nafas, raut kelegaan terpancar darinya. Badannya menggelosor, tangannya merengkuh topi dan diletakkan topi itu hati-hati di pangkuannya.

Tiba-tiba laki-laki itu memicingkan mata. Seorang pria yang dia kenali sebelumnya berjalan ke arahnya. Dia mengucek matanya seakan tak percaya.

“Kang!” laki-laki itu melambaikan tangan ke arahnya.

“Lho, sedang apa kamu disini?!” Laki-laki yang dipanggil “kang” mendekat.

“Justru saya yang bertanya, ko Kang Misno bisa jalan-jalan santai begitu. Kang Misno ga dibawa satpol pp tadi?” Laki-Laki itu memburu Misno dengan serentetan pertanyaan.

“Drat.. Drat.. Buat apa cape-cape lari?” Misno menggelengkan kepala. Ternyata laki-laki satunya bernama Kodrat.

“Lho, kan Satpol PP tadi baru aja nge-razia jembel-jembel kayak kita. Kang Misno tadi ga ketangkep?” Kodrat semakin terheran.

“Hahahaha.. Kalo aku mah santai aja Drat.. Malah dengan senang hati naik ke mobil mereka..” Misno tertawa melihat wajah Kodrat yang semakin bingung.

“Ga takut dimasukkan penjara Kang? Kan katanya kalo ketangkap razia, kita dikurung enam bulan.. enam bulan penjara lho kang.. Apalagi kayak kita yang identitas aja ga punya..” Kodrat menuntut penjelasan.

“Lha kamu jembel baru ya disini? Yang di penjara itu jembel yang ga tanda tangan di atas materai Drat..” Gantian misno yang terheran..

“Maksudnya Kang?”

“Duh.. Kodrat.. Di kota ini ada dua macam jembel. Kalo kayak aku, ini jembel yang udah tanda tangan surat perjanjian dengan satpol PP. Isinya, kalo ada razia kami harus nurut ikut mereka. Selama perjanjian bermeterai itu masih berlaku, walaupun kita ditangkep kalo ada Razia tapi kita bakal segera dibebasin ga jauh dari lokasi razia.” Misno menjelaskan panjang lebar.

“Itu biar gimana sih kang?” Kodrat masih memburu dengan pertanyaan.

“Kalo kata temen-temen sih, Satpol PP butuh pencitraan biar mereka keliatan kerja. Tanpa perjanjian bermeterai, mereka tuh ga bakal bisa nangkap jembel dalam jumlah besar saat razia. Nah, kalo mereka nangkep jembel dalam jumlah besar tiap kali razia, mereka bisa ngundang wartawan buat ngeliput itu.” Misno masih sabar menjelaskan.

Kapasitas otak Kodrat tidak dapat menjangkau penjelasan Misno. Dia hanya menggaruk-garuk kepalanya. Yang dia tahu sekarang ternyata di kota ini ada dua jenis jembel. Jembel bermeterai dan jembel tidak bermeterai.

————-

So, kalian ngrasa ada yang typo di dalam tulisan itu? Jembel? Meterai?

Hehehehe.. berarti kalian selama ini telah salah kaprah. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, tidak ada kata “gembel’ di sana. Yang ada adalah jembel.

Juga, tidak ada kata-kata materai. Ejaan yang betul adalah “meterai” . Jadi yuk kita mulai menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Yang telah di sempurnakan tentunya.

Hindari salah kaprah dalam berbahasa.

CEO Inspirator Academy, penulis 6 buku, co-writer 17 buku artis, pengusaha, dan trainer.

Cerita Dari Dirigen Oli Bekas

Cerita Dari Dirigen Oli Bekas Beberapa hari yang lalu mungkin teman-teman tahu bahwa saya menginisiasi donasi untuk membantu seorang anak bernama Latif. Sebuah video viral di social media memperlihatkan dia sedang dipaksa menyiram oli bekas…

Kios Untuk Ayah

Apakah benar hidup bermula di usia 40 tahun? Banyak sekali yang berkata kepada saya demikian. Bisa jadi ada benarnya, bisa jadi tidak berlaku bagi sebagian besar orang. Coba lihat sekeliling kita saat ini, apakah saudara…

Kamukah Salah Satu Gelandangan Itu? – Properti

https://finance.detik.com/properti/3744907/95-kaum-milenial-terancam-jadi-gelandangan-di-2020 Belakangan saya sering membuat survey atau polling mengenai properti. Kamu tahu kenapa? Ya tentu saja berawal dari kegelisahan saya ketika membaca liputan khusus koran kompas bulan februari kemarin, ditambah berita penegasan dari detik.com ….

#JumuahBerfaedah – Mamah dan Anak Buangannya.

Dari usul status FB dan IG Story saya pagi tadi, saya memilih tema Ibu untuk saya ceritakan di Jumat  ini. Saya memiliki hubungan yang unik dengan Ibu (yang biasa saya panggil Mamah). Relationship saya dengan…

#JumuahBerfaedah – Berorganisasi, Bersilaturahmi, Bersinergi.

Saya adalah orang yang sangat percaya dengan kekuatan silaturahmi. Bagaimana silaturahmi menjadi pintu paling juara untuk membuka rezeki. Aku mengalaminya sendiri. Seorang Brili bisa menjadi seperti ini pun, asbab silaturahmi. Alhamdulillah, karena ketetapanNya, silaturahmi yang…

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *