Mamahku Pedagang Baju

Dua hari kemarin, aku kedatangan seorang tamu istimewa seorang bidadari tanpa sayap. Siapa lagi kalo bukan Mamah. Mamah datang dari Purwokerto untuk melakukan ritual yang selalu dia lakukan setiap paling tidak dua bulan sekali. Mamah akan “kulakan” baju di Jakarta lalu dia jual lagi di desa kami. Dan dia sudah melakukannya sejak aku masih duduk di bangku SMP. 12 tahun sudah rutinitas seperti ini dijalaninya.

Sebenarnya, mamahku juga seorang guru kelas 5 SD di Sidamulya sana. Dia sudah mengalami karier yang cukup panjang sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Dulunya, Mamah mengajar di salah satu SMEA di Kroya. Masih jelas di ingatanku, beberapa kali saat aku SD dan sedang libur aku diajak ke sekolahnya. Sayangnya saat itu aku masih SD, jadi tidak terlalu bisa menikmati kesenangan berada di sekolah yang 80 persen muridnya adalah wanita.. Jadi saat itu aku lebih banyak menghabiskan waktu di ruang komputer bermain tetris atau solitaire.

Dari kecil aku sudah menyadari bahwa Mamah adalah sosok yang paling tidak bisa berdiam diri. Saat dia masih mengajar di SMK, dia sudah mulai berbisnis buku-buku ajar. Semalam suntuk aku pernah menemaninya mengetik dan merangkum buku-buku paket. Dan hasilnya nanti akan digandakan dan dijual kepada murid-muridnya. Mamah sangat gigih untuk hal yang satu itu.

Beranjak ke SMP, Mamah mulai bisnis jualan bajunya. Sangat sederhana konsepnya. Dua atau tiga bulan sekali Mamah akan pergi ke Jakarta, beli ini itu sampai berkarung-karung, lalu dijual eceran di rumah. Jangan bayangkan kami memiliki outlet atau ruko di Purwokerto. Tidak, Mamah hanya memiliki ruang tamu yang disulap menjadi galeri sederhana. Tepatnya gudang untuk menaruh semua barang dagangannya.

Mamah menjual baju-bajunya hanya melalu teman, tetangga, dan saudara. Semua bermodalkan getok tular. Atau bahasa kerennya menurut Kotler adalah “Word to Mouth” marketing. Selepas mengajar, sekitar pukul dua siang Mamah akan membawa satu tas plastik besar lalu dia taruh di sepeda motor. Dia akan berkeliling satu persatu ke rumah teman-temannya yang mungkin berminat akan baju-baju yang dijualnya. Menjelang maghrib, Mamah baru selesai menjalankan misinya dan pulang ke rumah. Selama 12 tahun dia jalani tanpa sedikitpun mengeluh.

Dulu waktu SMP, pada saat makan malam Aku sempat bertanya pada beliau.

“Mah, apa ga cape dari pagi sampe siang ngajar, terus setiap sore selalu keliling? Brili kadang kangen pengen main badminton bareng kayak dulu..”

“Bril, kalo misalnya mamah ga jualan baju.. Kita setiap hari cuma bisa makan nasi dan tempe setiap hari. Mamah nyari tambahan kayak gini, biar kamu bisa makan-makanan yang bergizi. Paling tidak telur atau ayam setiap dua hari sekali..”

Aku hanya menunduk terdiam dan memainkan nasi di piringku. Saat itu Aku sadar jika hanya mengandalkan gaji Bapak dan Mamah sebagai guru, keluarga kami takkan bisa makan makanan bergizi. Apalagi saat itu, Zulham adikku masih kecil dan pengeluaran pasti banyak.

“Bril, Mamah jualan baju juga ada kepuasan. Mamah bisa jadi pintu rezeki buat orang lain. Orang-orang yang mengambil bajunya di Mamah dan dijual lagi akan mendapatkan tambahan penghasilan. Selain itu jika ada orang butuh sandang yang layak, ga usah jauh-jauh pergi ke Purwokerto atau Jakarta.”

Ah iya, Mamah menjalankan bisnis bajunya dengan konsep kekeluargaan yang sangat kuat. Dia tidak pernah mengambil untung banyak untuk setiap barangnya. Para reseller yang mengambil barang dari Mamah boleh membayar barang yang diambilnya nanti kalo barangnya sudah laku. Hal ini membuat Mamah tidak selalu mendapat fresh money setiap kali dia selesai berbelanja di Jakarta. Kadang dia harus menunggu berbulan-bulan menunggu para reseller melunasi barang yang diambilnya. Jika ada barang-barang reseller yang ga laku, barangnya boleh dikembalikan utuh ke Mamah tanpa harus membayar.

Entah aku tak mengerti darimana datangnya keuntungan jika pola nya selalu seperti itu. Bahkan suatu ketika keluarga kami sempat berhubungan dengan Polisi karena ada reseller yang berhutang sampai puluhan juta dan tidak dibayar. Itupun karena Bapak yang mendesak untuk melaporkannya, jika tidak didesak mungkin Mamah sudah merelakannya..

Mungkin kalo aku yang ada di posisi Mamah, udah aku tabrak pake odong-odong itu orang..

Allah emang Maha Adil, dan rejeki ga akan pernah tertukar. Buktinya sampai saat ini bisnis Mamah walaupun tidak menjadi besar, tapi bisa menghidupi keluarga dengan makanan bergizi.

Hari Senin kemarin Aku sengaja mengambil cuti untuk menemani Mamah belanja dan dengan sukarela menjadi kuli angkutnya. Dari kios ke kios di Tanah Abang dan Mangga Dua. Aku tidak peduli resikonya adalah potong gaji dari perusahaan. Jika aku melewatkan kesempatan untuk berbakti, aku yang akan menyesal seumur hidup.

Golden moment yang kudapat adalah bisa makan siang berdua dengan Mamah. Saat itu banyak cerita-cerita yang mengalir antara Ibu dan Anak. Cerita-cerita yang selama ini kupendam sendiri dan urung kubagi. Disana pula aku bisa mengagumi Mamah. Walau kerutan sudah muncul dimana-mana dan wajahnya tak berhias make up merah merona, Mamah selalu cantik di mataku. Karena kekuatan dan ketegarannya itulah Aku sekarang bisa berdiri disini untuk mengukir visi hidupku.

Sebagai seorang anak aku menyadari, apapun yang sudah keberikan pada beliau tak akan pernah cukup untuk mengganti nilai setetes keringatnya. Mamah sudah mengorbankan banyak sekali hal dalam hidupnya untuk kami anak-anaknya.

Ya kawan, Aku tak pernah malu untuk mengakui bahwa Mamahku adalah seorang pedagang baju.

CEO Inspirator Academy, penulis 6 buku, co-writer 17 buku artis, pengusaha, dan trainer.

Cerita Dari Dirigen Oli Bekas

Cerita Dari Dirigen Oli Bekas Beberapa hari yang lalu mungkin teman-teman tahu bahwa saya menginisiasi donasi untuk membantu seorang anak bernama Latif. Sebuah video viral di social media memperlihatkan dia sedang dipaksa menyiram oli bekas…

Kios Untuk Ayah

Apakah benar hidup bermula di usia 40 tahun? Banyak sekali yang berkata kepada saya demikian. Bisa jadi ada benarnya, bisa jadi tidak berlaku bagi sebagian besar orang. Coba lihat sekeliling kita saat ini, apakah saudara…

Kamukah Salah Satu Gelandangan Itu? – Properti

https://finance.detik.com/properti/3744907/95-kaum-milenial-terancam-jadi-gelandangan-di-2020 Belakangan saya sering membuat survey atau polling mengenai properti. Kamu tahu kenapa? Ya tentu saja berawal dari kegelisahan saya ketika membaca liputan khusus koran kompas bulan februari kemarin, ditambah berita penegasan dari detik.com ….

#JumuahBerfaedah – Mamah dan Anak Buangannya.

Dari usul status FB dan IG Story saya pagi tadi, saya memilih tema Ibu untuk saya ceritakan di Jumat  ini. Saya memiliki hubungan yang unik dengan Ibu (yang biasa saya panggil Mamah). Relationship saya dengan…

#JumuahBerfaedah – Berorganisasi, Bersilaturahmi, Bersinergi.

Saya adalah orang yang sangat percaya dengan kekuatan silaturahmi. Bagaimana silaturahmi menjadi pintu paling juara untuk membuka rezeki. Aku mengalaminya sendiri. Seorang Brili bisa menjadi seperti ini pun, asbab silaturahmi. Alhamdulillah, karena ketetapanNya, silaturahmi yang…

12 comments

    Sama seperti ibuku juga nih mas, memulai hidup di Jakarta dengan membuka toko utk membantu alm Bapak yang PNS. Dahulu juga pernah bikin TK untuk anak-anak tidak mampu bareng teman2nya, sebelum akhirnya bubar karena lokasinya kena gusur. Setelah ditinggal cukup lama, akhirnya jelang pensiun kembali berdagang.

    Dimulai dari jualan baju bekas import yang ngambil dari pasar Senen, jualan kaos dagadu, hingga akhirnya menjadi toko kelontong. Toko yang saat ini dipenuhi dengan berbagai macam ATK, tabung gas, air mineral galon dan laundry serta foto copy.

    Usaha kecil yang bahkan sudah sanggup membiayai umroh beberapa orang kerabat dan guru mengaji. Subhanallah…ternyata kita memang harus banyak belajar dari orang tua yang pekerja keras. Kerja cerdas dan kerja ikhlasnya hanya untuk anak-anak, keluarga dan manfaat bagi orang lain.

    Menginspirasi mas tulisannya…kembali menerawang ke perjalanan hidup bersama orang tua tercinta.

    Aku pun hingga kini tetap melakoni bisnis seperti mamah mas brili.. bedanya, kalau belia belanja di tanah abang dan mangga 2, aku belanja nya di Pasar Baru dan Gasibu. Hehee :))
    Semangat berdagang!
    Sebab rasulullah pun pedagang :))

    Wah suka dan bangga seorang pemuda Banyumas ngapak ada yang berkarya cemerlang seperti njenengan Mas, terus berkarya dan terus ditunggu karya-karyanya..goodluck

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *