Melanglang Buana (2)

Ada satu hal yang membuatku begitu menggemari perjalanan. Terlatih dari kecil untuk menyukai perpindahan, virus traveling ini sepertinya ditularkan oleh Mamah. Mamah sudah terbiasa membawaku untuk melihat dunia lebih dini sedari kecil. Traveling membuatku lebih mengerti arti dari halo dan selamat tinggal. Sebuah halo untuk awal yang baru, dan sebuah selamat tinggal untuk perjalanan melangkah. Melangkah untuk halo-halo selanjutnya.

Itulah yang kudapat di perjalananku kemarin. Aku bertemu dengan banyak teman baru. Termasuk supir taksi yang membawaku melanglang buana mampir di Legoland, Johor Bahru, Malaysia. Namanya Yazid, dia masih muda seumuranku. Dia memilih mengemudi taksi di malaysia untuk menghidupi keluarganya. Aku mengacungkan dua jempolku untuk kemampuan adaptasinya.

Bagaimana tidak, tau aku berasal dari jawa, dia lalu menyapaku menggunakan kata “mas”. Awalnya aku curiga, jangan-jangan ini termasuk usahanya untuk meng-klaim kata “mas” masuk ke dalam bahasa malaysia.

Dugaanku keliru.

Dia terbiasa mendapatkan penumpang orang-orang Indonesia. Mulai dari Aceh hingga Surabaya. Dan dia sudah sering mendengar penumpangnya berbicara dalam bahasa Ibu mereka. Jika ada hal yang dia tak mengerti, dia tidak sungkan untuk bertanya apa artinya.

Pipiku pedas mendengarnya. Seorang supir taksi malaysia mau mempelajari bahasa daerah kita. Di sisi lain, kita yang merasa memiliki bahasa itu secara turun temurun lebih merasa keren, gaul, ganteng, dan jagoan saat bisa menggunakan bahasa asing alay dalam kehidupan sehari-hari.

Ah sudahlah, lupakan apa yang kudapat setelah satu jam berkeliling legoland. Perjalanan menuju kesana bernama Yazid jauh lebih dalam maknanya. Apa Legoland tidak menarik? Menarik sih, tapi bukan untuk orang seusiaku.

 

Saatnya meluncur ke Singapura lagi. Aku ditemani Asa dan Vicky dalam perjalananku kembali ke Singapura. Sempat ditegur oleh petugas imigrasi Malaysia karena mengambil gambar di JB Sentral. Aku sudah khawatir akan dideportasi karena terlalu tampan. Tapi toh, nyatanya tidak. Dia memperingatkanku karena memang aturannya tidak memperbolehkan.

Petaka sesungguhnya datang ketika kami memasuki wilayah Singapura. Expired date di Pasporku berbuntut panjang.

Kali ini, petugas berpakaian ala CIA menggiringku masuk ke ruangan di lantai tiga kantor imigrasi. Wanita berbadan tegap, mempunyai potongan rambut lebih cekap daripada rambutku, membawa pentungan kemana-mana, dan memakai anting hitam di kuping sebelah kanan saja. Jika di Indonesia, mungkin dia bisa menjadi Miss Debt Collector.

Disana aku tak sendiri. Aku melihat lebih dari 10 orang sudah menunggu di ruang tunggu. Dari nama-nama yang dipanggil petugas aku tahu kami berasal dari Negara yang sama. Hampir tidak mungkin ada warga asing bernama Wahyudi, Sugiman, Tarminah, dan Karsini.

Satu hal yang bisa kuambil kesimpulan disini. Di Singapura, petugas yang chinese ternyata jauh lebih ramah dari petugas berwajah melayu. Entah apa sebabnya.

Setelah diinterogasi selama hampir satu jam, akhirnya aku dibebaskan bersyarat. Syaratnya, aku harus mau berfoto bersama dengan mereka. Entah karena mereka tahu aku penulis, atau aku mirip dengan beruang madu di arena sirkus.

Lepas dari cengkraman petugas Imigrasi Singapura (lagi) , kami bertiga secepat mungkin ke tempat pertemuan dengan Ritha. Siapa Ritha? Singkatnya dia adalah pembaca buku ku yang khilaf mau menemani kami bertiga keliling Singapura. Dan dia mau menampung kami bertiga di rumah Bos nya di bilangan Choa Chu Kang.

Detinasi pertama kami, disepakati adalah menuju Orchard Road. Jalan yang dipenuhi pusat perbelanjaan yang terkenal hingga kemana-mana. Daaaan.. sampai disana ternyata semua sama. Orang lalu lalang penuh sesak dimana-mana. Barang-barang branded terpajang dimana-mana. Lagi-lagi, kami bisa menemukan banyak orang Indonesia di sepanjang Mall yang ada di Orchard Road.

Orchard Roaaad!
Orchard Roaaad!

Ah, ada satu bedanya.. Toko ini!

 

Berani masuk?
Berani masuk?

Kami melanjutkan perjalanan ke Sentosa Island, menggunakan moda transportasi yang sangat friendly. Termasuk untuk orang desa macam aku yang pertama kali menginjak Singapura. Walaupun disini kita harus pandai-pandai mengatur jalur dan berpindah kereta di rute berbeda, tapi penjelasan di peta nya sangat gamblang. Memudahkan.

Rute menuju Sentosa Island dari Orchard hanya memakan waktu kurang lebih setengah jam. Disambung menggunakan Sentosa Express. Semacam kereta listrik yang menghubungkan Pulau Utama dan Sentosa. Tentu saja, yang kami tuju pertama kali adalah Universal Studio! Wahana ini baru bisa membuatku berdecak kagum. Apa yang selama ini hanya bisa kusaksikan di Layar Lebar kini terpampang nyata, amat dekat.

Kali ini trio Bukuku mejeng di Universal Studiooooh!
Kali ini trio Bukuku mejeng di Universal Studiooooh!

Puas di Universal Studio, kami mampir sebentar untuk berfoto di depan Patung Merlion tertinggi di Singapura, baru melanjutkan untuk kembali melanglang Buana.

Gantengan siapa?
Gantengan siapa?
Errr.. Kayaknya patungnya mau muntah deh.. Ada tas kresek?
Errr.. Kayaknya patungnya mau muntah deh.. Ada tas kresek?

Lepas dari Sentosa, tujuan kami selanjutnya adalah Little India. Ya, kami kelaparan. Dan berdasarkan rekomendasi, Little India cocok untuk mengisi perut backpacker sepertiku.

Seperti namanya, Little India memang India kecil. Baru pertama kali dalam hidup, aku melihat begitu banyak orang India dalam satu tempat. Yang jualan baju orang India, Jualan emas orang India, yang jualan makanan orang India, yang jomblo juga orang India. But Anyway, disini banyak makanan halal, disamping harganya yang terjangkau.

Ya, hidup selalu berbicara tentang perjalanan. Kita akan menemukan tempat-tempat baru yang selama ini asing, bahkan dalam bayangan kita. Dulu kita sangat girang saat membuat Sate bersama kawan, hasil dari “merampok” potongan daging kambing. Namun sekarang, tanpa sadar kita sudah berkewajiban untuk berkurban sendiri. Ya, dunia berlari. Apakah kamu akan mengikuti iramanya, atau hanya sekedar menjadi penonton yang tertinggal selamanya?

 

________________________________________________________________________________________

Tidak ingin hanya menjadi penonton, dan menjadikan perjalanan hidupmu lebih bermakna, JANGAN TUNDA untuk ikut :

ava rcos

CEO Inspirator Academy, penulis 6 buku, co-writer 17 buku artis, pengusaha, dan trainer.

Cerita Dari Dirigen Oli Bekas

Cerita Dari Dirigen Oli Bekas Beberapa hari yang lalu mungkin teman-teman tahu bahwa saya menginisiasi donasi untuk membantu seorang anak bernama Latif. Sebuah video viral di social media memperlihatkan dia sedang dipaksa menyiram oli bekas…

Kios Untuk Ayah

Apakah benar hidup bermula di usia 40 tahun? Banyak sekali yang berkata kepada saya demikian. Bisa jadi ada benarnya, bisa jadi tidak berlaku bagi sebagian besar orang. Coba lihat sekeliling kita saat ini, apakah saudara…

Kamukah Salah Satu Gelandangan Itu? – Properti

https://finance.detik.com/properti/3744907/95-kaum-milenial-terancam-jadi-gelandangan-di-2020 Belakangan saya sering membuat survey atau polling mengenai properti. Kamu tahu kenapa? Ya tentu saja berawal dari kegelisahan saya ketika membaca liputan khusus koran kompas bulan februari kemarin, ditambah berita penegasan dari detik.com ….

#JumuahBerfaedah – Mamah dan Anak Buangannya.

Dari usul status FB dan IG Story saya pagi tadi, saya memilih tema Ibu untuk saya ceritakan di Jumat  ini. Saya memiliki hubungan yang unik dengan Ibu (yang biasa saya panggil Mamah). Relationship saya dengan…

#JumuahBerfaedah – Berorganisasi, Bersilaturahmi, Bersinergi.

Saya adalah orang yang sangat percaya dengan kekuatan silaturahmi. Bagaimana silaturahmi menjadi pintu paling juara untuk membuka rezeki. Aku mengalaminya sendiri. Seorang Brili bisa menjadi seperti ini pun, asbab silaturahmi. Alhamdulillah, karena ketetapanNya, silaturahmi yang…

6 comments

    Kewreen mas, tulisannya up date terus.

    Sukses selalu ya !

    Powered by Telkomsel BlackBerry®

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *