[Bukan] Kertas Biasa

Beberapa tahun yang lalu saat aku masih memakai seragam putih abu-abu, saat pelajaran kosong paling suka mainan lempar kertas. Gerombolan anak cowo kurang kerjaan dan fakir asmara mengisi waktunya dengan main lempar-lemparan gumpalan kertas bekas ke dalam keranjang sampah.

Pokoknya dari jarak yang sudah diatur cukup jauh, si pelempar harus memastikan bagaimana caranya si kertas bisa masuk tepat ke dalam tempat sampah. Presisi harus tepat, walaupu kadang angin menerpa dari kiri atau kanan yang bisa mengubah arah si kertas.

Kalo dalam hidupmu pernah mainan seperti itu barang sekali aja, aku pastikan kamu sempat mengalami masa muda yang menyenangkan. Tapi tenang, di tulisan kali ini aku ga akan membahas bagaimana cara menerbangkan gumpalan kertas tadi ke dalam sebuah keranjang sampah yang menganga.

Tapi proses si kertas yang bisa mendarat sampai ditujuannya.

Ambil sebuah kertas yang baru. Yang masih licin, masih mulus dan tanpa lipatan. Kumpulkan tenaga terkuatmu, dan lemparkan tanpa merusak bentuk kertas tadi. Apa yang terjadi, kertas itu mungkin mampu terbang perlahan, melayang, kadang berkelok sebelum menukik tajam ke lantai. Malah kadang sebelum kita lempar, kita sendiri yang kebingungan karena belum apa-apa kertas itu sudah meluncur jatuh dari tanganmu.

Masih dengan kertas yang sama, masih ingat origami favorit kita waktu kecil. Yak, pesawat-pesawatan atau banyak pula yang sebut ini burung dara- daraan. Lipat sana lipat sini, dengan sudut yang presisi dan simetris. Setelah jadi, lempar lagi. Pesawat kertas sederhana mu akan terbang lebih jauh, berkelok mengikuti arah angin lalu meluncur di lantai. Lebih jauh dari kertas pertama yang kamu lempar.

Ambil lagi pesawat kertasmu, lalu sekarang remukkan kertas itu. Tekan-tekan sampai berbentuk bola. Menjadi gumpalan kertas kusut. Lempar sekuat tenaga, gumpalan kertas itu akan melengkung seperti pelangi, dan akhirnya jatuh karena tertarik gravitasi. Dan semakin jauh jarak nya dengan posisimu saat melemparnya.

Kertasnya SAMA.

Lembarannya juga SAMA.

Tapi ketika ada tangan yang mulai membentuknya,meremasnya bahkan ke titik tak berbentuk lagi, kertas itu dapat terbang lebih jauh. Menjangkau jarak yang tak bisa digapai oleh si kertas rapi dan mulus yang pertama.

Begitu pula dengan apa yang kita sebut sebagai kehidupan.

Kamu punya pilihan kok untuk hidup mulus. Menghindari rintangan dan kesempatan yang ada. Menghindar dari masalah yang mendera.

Namun jika kamu berani keluar dan menghadapi tiap masalahmu dengan gagah, pilihanmu sudah tepat. Karena masalah itu ibarat tangan yang sedang membentuk kertas tadi. Masalah itu sedang membentuk diri kita.

Melipat satu sisi ke sisi yang lain. Menekuk di sana sini. Mengukur dan membetulkan kembali sudut yang kurang pas.

Atau sekedar Tangan yang meremukkan kertas mulusmu. Membuatnya tanpa bentuk. Hanya sekedar gumpalan kertas. Kusut. Berantakan.

Tapi dengan satu tujuan : membuat mu terbang lebih jauh. Membuatmu “terlontar” lebih dari yang kamu bisa ketika kamu masihlah kertas mulus.

Bekas lipatan akan tetap ada. Kertasmu tidak akan mulus kembali. Tapi itulah bekas yang akan kau ceritakan kelak. Bekas yang membawamu hingga ke titik dan jarak di mana kamu tidak menyangkanya saat ini.

Semua orang yang sekarang berada di titik kesuksesan tertinggi mereka, bukanlah mereka yang hidup bak kertas putih licin rapi yang pertama. Sudah ribuan tangan yang meremas serta membentuk mereka seperti sekarang. Namun mereka dengan gagah menghadapinya dan sekarang ada untuk menceritakan setiap bekas lipatannya.

Berharaplah, hidupmu tak hanya menjadi kertas mulus yang statis. Diam di tempat. Tanpa jarak.

Apapun itu, entah menjadi kapal-kapalan, ataupun gumpalan kertas kusut, nikmatilah prosesnya. Inilah caranya supaya hidupmu bisa terbang jauh. :)

 

CEO Inspirator Academy, penulis 6 buku, co-writer 17 buku artis, pengusaha, dan trainer.

Cerita Dari Dirigen Oli Bekas

Cerita Dari Dirigen Oli Bekas Beberapa hari yang lalu mungkin teman-teman tahu bahwa saya menginisiasi donasi untuk membantu seorang anak bernama Latif. Sebuah video viral di social media memperlihatkan dia sedang dipaksa menyiram oli bekas…

Kios Untuk Ayah

Apakah benar hidup bermula di usia 40 tahun? Banyak sekali yang berkata kepada saya demikian. Bisa jadi ada benarnya, bisa jadi tidak berlaku bagi sebagian besar orang. Coba lihat sekeliling kita saat ini, apakah saudara…

Kamukah Salah Satu Gelandangan Itu? – Properti

https://finance.detik.com/properti/3744907/95-kaum-milenial-terancam-jadi-gelandangan-di-2020 Belakangan saya sering membuat survey atau polling mengenai properti. Kamu tahu kenapa? Ya tentu saja berawal dari kegelisahan saya ketika membaca liputan khusus koran kompas bulan februari kemarin, ditambah berita penegasan dari detik.com ….

#JumuahBerfaedah – Mamah dan Anak Buangannya.

Dari usul status FB dan IG Story saya pagi tadi, saya memilih tema Ibu untuk saya ceritakan di Jumat  ini. Saya memiliki hubungan yang unik dengan Ibu (yang biasa saya panggil Mamah). Relationship saya dengan…

#JumuahBerfaedah – Berorganisasi, Bersilaturahmi, Bersinergi.

Saya adalah orang yang sangat percaya dengan kekuatan silaturahmi. Bagaimana silaturahmi menjadi pintu paling juara untuk membuka rezeki. Aku mengalaminya sendiri. Seorang Brili bisa menjadi seperti ini pun, asbab silaturahmi. Alhamdulillah, karena ketetapanNya, silaturahmi yang…

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *