Menemukan Potongan Puzzlemu

Dialog malam tadi masih terngiang berdengung di otakku saat ini. Dialog singkat tentang apa yang kita cari di dalam diri pasangan kita nanti. Siapa yang kita cari? Apa dia yang ada untuk mengisi tapi berbeda karakter dengan kita atau dia yang mempunyai jiwa sama dengan kita tapi tak melengkapi.

Jujur harus diakui, khususnya pada laki-laki yang mempunyai ego sedemikian tinggi ditambah karakter sebagai seorang pemburu yang tak pernah puas hanya dengan satu.  Sudah lumrah misalnya cowo menilai misalnya cewe A sangat nyaman untuk dijadikan pacar tapi bukan istri. Dan sebaliknya, cowo juga dapat memilih si cewe B akan sangat ideal dijadikan istri bukan pacar. Disitulah persoalan ini dimulai. Maaf kalo dalam tulisan ini akan lebih dominan sudut pandang seorang laki-laki. Tapi segi positifnya, bagi kalian para wanita dapat merenung seperti apa posisi kalian di benak pasangan laki-laki kalian. Dan mungkin sebagai nasehat kecil, agar kalian lebih mampu menempatkan diri kalian menjadi pelengkap puzzle nya.

Layaknya sebuah puzzle besar, seprti itulah kehidupan kita sekarang. Dalam sebuah keseluruhan puzzle, diperlukan bagian-bagian dengan potongan yang berbeda agar dapat menjadi indah dan lengkap. Terutama dalam hal memilih pasangan kita. Kadang kita merasa nyaman jika menemukan seseorang yang mempunyai karakter sama dengan kita, hobi sama, keanehan sama, bahkan selera musik dan film yang sama. Mungkin kita menumakn satu gambar yang indah, yang menantang di atas puzzle kita yang selama ini kita cari. Masalahnya adalah belum tentu puzzle itu sempurna walau dengan gambar yang indah.

Pun dengan seseorang yang kita anggap dia menguasai apa yang tidak kita punyai. Dia yang kuat di area lemah kita. Dia yang bisa menjaga gawang, di saat kita sedang asik menyerang. Dia yang bisa teliti disaat kita kerepotan dengan urusan-urusan kecil nan ribet. Dia yang bisa bersabar dan menenagkan untuk kita yang masih meledak-meledak. Dia yang teratur disaat kita lebih soka melompat-lompat. Dia seakan bisa melengkapi potongan puzzle yang selama ini kita cari. Namun bila kita sudah merasa lengkap dengan semua puzzle itu, apakah gambar yang tercipta dari potongan yang lengkap itu sudah memuaskan kita? Apa sudah seperti gambar yang kita inginkan selama ini?

Disitulah tantangan sebenarnya dalam menentukan siapa pelengkap puzzle kita. Semua orang boleh bercita-cita dan memimpikan bahwa nanti siapapun dia, dia akan melengkapi kepingan puzzle kita sekaligus menjadi gambar yang kita inginkan. Termasuk akupun menginkan yang seperti itu. Tetapi semuanya akan kembali pada prioritas utama hidup kalian masing-masing. Pengambil kebijakan terakhir dalam diri kalian adalah kalian sendiri. Kalianlah yang akan menentukan, akan lebih memprioritaskan bentuk akhir  puzzle atau gambar yang tercipta diatasnya. Itulah yang akan menjadi penentu pasangan seperti apa yang kalian cari.

Kalo kalian tanya aku, ilmuku belum seberapa untuk bab pernikahan. Karena aku sendiri belum menyelaminya secara langsung. Namun, sampai detik ini percayalah itu adalah bab yang paling serius aku pelajari.

Dan sampai saat ini yang aku percayai tentang pernikahan dan pelengkap puzzle (baca:pasangan) adalah seperti ini.

Pernikahan aku ibaratkan adalah sebuah kapal besar yang tidak sedang berlabuh di pelabuhan. Saat akad terucap dan disahkan, saat itulah kapal itu resmi berlayar ke laut lepas. Menghadang ombak, mengalahkan badai, dan juga menikmati tenang serta indahnya laut di waktu yang berbeda. Sebuah kapal besar memerlukan  seorang kapten kapal bukan? Yang handal, yang bisa memimpin dan memberikan arahan agar kapal tidak oleng dan tenggelam. Tapi disamping itu, ia perlu awak kapal lainnya dengan kemampuan berbeda. Ada navigator, ada mekanik, ada tukang masaknya, ada yang bagian membersihkan kapal juga. Sebuah kapal tidak akan berjalan seimbang kalau didalamnya ada dua orang kapten tapi tidak ada satupun mekanik. Begitu juga walaupun ada tiga mekanik sekaligus, tapi tanpa adanya kapten kapal, mungkin kapal ini berjalan tai tak terarah tujuannya dan tak ada yang tahu seberapa lama kan bertahan. Gimana? Udah bisa melihat kemana arah tulisanku ini berlanjut?

Ya seperti itulah pernikahan dan perjuangan mencari kepingan puzzle itu. Aku lebih mengutamakan keseimbangan. Aku merasa pernikahan adalah sebuah kapal dengan organisasi komplex di dalamnya. Jadi aku perlu partner yang bisa melengkapi kekuranganku, dan kemudian bersama-sama saling mengisi untuk melanjutkan perjalanan yang kami cari.

Harus diakui, didunia ini tidak ada yang sempurna. Resiko lebih mengutamakan kelengkapan puzzle daripada gambar diatasnya pun ada. Resiko bosan, resiko kurang dapat feel atau whatever itu pasti ada. Tapi aku lebih memilih resiko itu. Daripada aku lebih mengutamakan kesempurnaan gambar, tapi puzzle tidak seimbang. Mungkin hidup bisa lebih fun dan berwarna, tapi karena tidak lengkap maka resiko karam di tengah jalanpun terbuka lebih lebar. Itu yang ingin aku hindari.

Aku laki-laki normal dan manusia biasa pula. Keinginan untuk menginginkan pasangan sempurna dalam hidup pasti ada. Pasangan yang bisa diajak gila bareng, yang sama ga tau malunya, yang ga masalah dengan kejahilan-kejalihanku. Sangat menyenangkan mempunyai pasangan yang satu soul dengan kita.  Tapi demi sebuah cita-cita yang lebih besar, ada yang harus aku tumbalkan. Ego. Aku memilih untuk mengorbankan ego ku terhadap pasangan yang memiliki pandangan dan karakrter sama denganku demi utuhnya sebuah puzzle masa depanku. Bukankah tidak ada ada keseimbangan jika hanya Yin yang ada tanpa Yang. Bukankah tidak sempurna pelangi jika hanya ada satu warna.

Aku orangnya kurang teliti dan detail, maka yang lebih kuutamakan sekarang adalah dia yang bisa menutupi kecerobohanku dengan ketelitiannya. Aku jujur saja orangnya kurang peduli dengan kebersihan dan kerapian, jadi aku butuh partner yang setia mengingatkanku dengan memberi contoh atau bahkan memarahiku. Aku orangnya super visioner,lompat-lompat, tidak suka yang berurutan dan kaku, bisa merencanakan hal-hal besar sampai beberapa langkah ke depan entah 2 tahun, 5 tahun bahkan 20 tahun lagi. Mau jadi seperti apa nanti saat aku mati, aku sudah tau jawabannya dan tau rencananya seperti apa jelasnya. Dan yang aku butuhkan adalah dia yang bisa menjaga kestabilanku, telaten mengingatkan rencana besarku, menjaga keteraturan, dan memberi masukan hal kecil yang mungkin tak aku pikirkan sebelumnya.

Sekali lagi tulisan ini adalah dari sudut pandangku, dengan segala keterbatasan ilmu serta diriku. Jadi its up to you guys. Mana yang lebih kalian utamakan, gambarnya atau kelengkapan bentuk puzzle nya. Itu pilihanmu, tulisan ini hanya sebagai renungan dan bahan untuk mengambil keputusan kalian nantinya. Good Luck!

CEO Inspirator Academy, penulis 6 buku, co-writer 17 buku artis, pengusaha, dan trainer.

Kios Untuk Ayah

Apakah benar hidup bermula di usia 40 tahun? Banyak sekali yang berkata kepada saya demikian. Bisa jadi ada benarnya, bisa jadi tidak berlaku bagi sebagian besar orang. Coba lihat sekeliling kita saat ini, apakah saudara…

Kamukah Salah Satu Gelandangan Itu? – Properti

https://finance.detik.com/properti/3744907/95-kaum-milenial-terancam-jadi-gelandangan-di-2020 Belakangan saya sering membuat survey atau polling mengenai properti. Kamu tahu kenapa? Ya tentu saja berawal dari kegelisahan saya ketika membaca liputan khusus koran kompas bulan februari kemarin, ditambah berita penegasan dari detik.com ….

#JumuahBerfaedah – Mamah dan Anak Buangannya.

Dari usul status FB dan IG Story saya pagi tadi, saya memilih tema Ibu untuk saya ceritakan di Jumat  ini. Saya memiliki hubungan yang unik dengan Ibu (yang biasa saya panggil Mamah). Relationship saya dengan…

#JumuahBerfaedah – Berorganisasi, Bersilaturahmi, Bersinergi.

Saya adalah orang yang sangat percaya dengan kekuatan silaturahmi. Bagaimana silaturahmi menjadi pintu paling juara untuk membuka rezeki. Aku mengalaminya sendiri. Seorang Brili bisa menjadi seperti ini pun, asbab silaturahmi. Alhamdulillah, karena ketetapanNya, silaturahmi yang…

Alien Dalam Dunia Penulis (Tere Liye)

Saya tidak kaget dengan heboh pernyataan Bang Tere Liye kemarin. Karena saya mengikuti pemikiran sekaligus langkah yang ditempuhnya soal keadilan bagi penulis. Termasuk audiensi yang saya lakukan Maret lalu kepada Pak Hestu Yoga selaku Direktur…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *