Sebaik-baik Calon Menantumu Adalah Saya

Sore itu seorang laki-laki dengan segenap keberaniannya menghadap dua orang yang dia harapkan di masa depan dapat ia panggil Ibu dan Bapak. Dia sadar, sore itu ia akan diinterogasi sepasang suami istri yang begitu menyayangi putrinya.

Ibu : “Jadi apa pekerjaanmu?”

Saya : “Saya berbisnis Ibu. Selain itu saya juga seorang trainer dan penulis.”

Bapak : “Bagaimana dengan penghasilanmu? Apa pasti?”

Saya : “Alhamdulillah, dengan apa yang saya kerjakan saat ini, saya mampu menggaji belasan karyawan saya Pak.”

Ibu : “Mengapa engkau tidak memilih untuk berkarir di satu perusahaan? Itu lebih memberimu jaminan bukan? Memilih karir sebagai dokter, polisi, atau PNS juga pilihan tepat yang pastinya akan mampu menopang kehidupanmu yang lebih pasti.”

Bergetar bibir ini mencoba menjawab. Berdegup pula jantung ini turut mengiringi.

Saya : “Saya sadar Ibu, Bapak. Hidup ini semua pasti akan bermuara pada pilihan. Sebelumnya saya sudah berkarier, dan Alhamdulillah jabatan terakhir saya adalah seorang manajer perusahaan multinasional. Dan saya juga memiliki pilihan untuk menjadi seorang PNS jika saya mau. Bapak dan Ibu saya berkali-kali menawarkan jalur khusus jika saya mau menjadi seorang PNS.”

Bapak : “Kamu ini aneh, kenapa tidak kamu ambil saja kesempatan itu? Ini malah memilih berwirausaha yang ga ada kepastian penghasilannya.”

Saya mencoba tetap tersenyum saat menjawab. Ya Allah, berilah hambamu kekuatan. Setidaknya bantu aku tuk hentikan getar di lututku ini.

Saya : “Bapak, Ibu.. Maafkan anak muda yang masih miskin pengalaman ini. Saya meyakini, kepastian hanya milik Allah. Dan kepastianNya yang sudah kita bersama-sama tahu adalah maut dan hari pembalasan kelak. Jika saya memilih kehidupan yang baik namun itu hanya untuk saya, pasti saya akan memilih melanjutkan karier saya atau menjadi PNS seperti yang pernah ditawarkan oleh Bapak dan Ibu saya. Saya memilih jalan sebagai pengusaha, adalah satu bentuk ikhtiar saya agar hidup saya tidak hanya bermanfaat untuk saya. Saya tidak pernah tahu kapan maut akan menjeemput saya. Yang saya tahu adalah sebelum maut datang menjemput saya, paling tidak saya sudah lebih bermanfaat bagi sesama. Paling tidak ketika nanti ditanya malaikat tangan, kaki, dan tubuhmu digunakan untuk apa di dunia? Saya bisa menjawab pertanyaan itu dengan jawaban ; Saya menggunakannya untuk berusaha semaksimal mungkin menjadi gardu rezeki bagi manusia-manusia lainnya.”

Ibu : “Jika penuh ketidakpastian seperti itu, dengan apa engkau akan menjamin kebahagiaan putri kami nantinya?”

Saya : “ Ibu, saya sadar saya laki-laki. Saya adalah calon imam bagi istri dan anak-anak saya nanti. Dalam prinsip hidup saya, seorang imam harus berpikir 3 kali di depan keluarganya. Ibu boleh pegang kata-kata saya, kebahagiaan calon istri saya ; jika dia adalah putri Ibu nantinya sudah saya persiapkan bahkan sebelum bertemu dengannya. Saya sudah menyiapkan berbagai macam kepastian finansial untuknya. Tiga perusahaan yang saya rintis saat ini adalah salah satu dari sekian banyak persiapan membahagiakan putri Ibu. Selain itu, saya juga sudah mempersiapkan tabungan berupa asset jangka panjang untuknya. Dan, disamping itu saya sudah mempersiapkan ahli waris untuk royalty karya-karya saya sebagian besar untuk istri dan anak saya.

Seandainya pun setelah akad nikah saya dipanggilNya, kepastian hidup anak Ibu sudah saya bereskan.”

Bapak : “Tapi penampilanmu tidak menunjukkan kamu sudah menyiapkan itu semua. Dan juga kami tidak mengenal siapa sosok kedua orang tuamu.”

Saya : “Bapak, saya memilih menginvestasikan asset saya untuk kebahagiaan istri saya nantinya. Jadi saya memutuskan merelakan diri saya berpenampilan sederhana, dengan kendaraan yang bukan merk mewah. Karena kemewahan bagi saya adalah melihat istri dan keluarga saya nanti bisa hidup bahagia. Untuk itulah saya menunda banyak hal.

Kedua orang tua saya juga bukan sosok berada dan tersohor. Mereka bukan pejabat ataupun public figure dengan deret gelar yang menyilaukan. Dalam kesederhanaan mereka lah saya memahami arti pahlawan tanpa tanda jasa. Dan saya bangga memiliki orang tua dengan profesi guru.”

Ibu : “Saya masih meragukanmu, karena kamu bukan dokter, polisi/tentara, atau PNS. Meragukan apakah nanti anak saya bisa engkau bahagiakan.”

Saya : “Saya akan menikahi seseorang. Yang artinya, Saya meminta seorang perempuan untuk percaya pada saya. Untuk memindahkan bakti dia, yang tadinya kepada Ibu dan Bapak menjadi kepada Saya. Kewajiban suami adalah siap lahir dan batin Ibu..

Jika batin saya ‘siap melindungi’ , maka wujud kesiapan saya adalah punya atap yang dapat melindungi putri Ibu dari panas, hujan, dan bahaya. Dan itu harus saya bayar dari kantong saya sendiri. Itu wujud melindungi.

Jika batin saya ‘siap menafkahi’ maka wujudnya adalah memiliki penghasilan yang mencukupkan istri dengan wajar. Mungkin tidak mewah dan memanjakanm, tapi cukup dan wajar. Itu, wujud dari siap batin.

Saya memang tidak menunggu saya betul-betul kaya untuk melamar putri Ibu. Namun sekarang saya datang ketika persiapan saya sudah utuh. Sudah lengkap semua perencanaan saya menjadi suami yang siap bertanggungjawab lahir dan batin.”

Ibu : “ Itu belum cukup.”

Saya : “ Satu hal yang pasti Ibu dan Bapak. Jika semua yang sudah saya siapkan untuk melamar Putri Ibu dan Bapak masih belum dirasa cukup. Saya berani menjamin satu hal. Saya memiliki sesuatu yang nilainya melebihi dunia dan seisinya. Itulah shalat Fajar saya.

Saya memiliki niat bahwa saya harus menjadi perhiasan dunia akhirat Istri saya kelak. Dan saya pun bertekad untuk mampu membimbingnya menjadi perhiasan dunia akhirat saya.”

Ibu dan Bapak nampaknya masih bergeming.

Saya : “Jika saya belum mampu meluluhkan hatimu wahai Ibu dan Bapak. Setidaknya izinkanlah Allah yang membalikkan hati Bapak dan Ibu.”

Note :

  1. Hampir semua isi tulisan ini terinspirasi dari kisah dan kegelisahan pribadi, jadi saya tidak bermaksud menyinggung profesi tertentu.
  2. Semoga tulisan ini dapat membantu kaum laki-laki yang bernasib mirip seperti saya. Yang memilih jalan sebagai pengusaha sebagai pilihan hidupnya.
  3. Semoga pula tulisan ini dapat menjadi guidelines bagi para wanita dalam menyeleksi calon suaminya.
CEO Inspirator Academy, penulis 6 buku, co-writer 17 buku artis, pengusaha, dan trainer.

Kios Untuk Ayah

Apakah benar hidup bermula di usia 40 tahun? Banyak sekali yang berkata kepada saya demikian. Bisa jadi ada benarnya, bisa jadi tidak berlaku bagi sebagian besar orang. Coba lihat sekeliling kita saat ini, apakah saudara…

Kamukah Salah Satu Gelandangan Itu? – Properti

https://finance.detik.com/properti/3744907/95-kaum-milenial-terancam-jadi-gelandangan-di-2020 Belakangan saya sering membuat survey atau polling mengenai properti. Kamu tahu kenapa? Ya tentu saja berawal dari kegelisahan saya ketika membaca liputan khusus koran kompas bulan februari kemarin, ditambah berita penegasan dari detik.com ….

#JumuahBerfaedah – Mamah dan Anak Buangannya.

Dari usul status FB dan IG Story saya pagi tadi, saya memilih tema Ibu untuk saya ceritakan di Jumat  ini. Saya memiliki hubungan yang unik dengan Ibu (yang biasa saya panggil Mamah). Relationship saya dengan…

#JumuahBerfaedah – Berorganisasi, Bersilaturahmi, Bersinergi.

Saya adalah orang yang sangat percaya dengan kekuatan silaturahmi. Bagaimana silaturahmi menjadi pintu paling juara untuk membuka rezeki. Aku mengalaminya sendiri. Seorang Brili bisa menjadi seperti ini pun, asbab silaturahmi. Alhamdulillah, karena ketetapanNya, silaturahmi yang…

Alien Dalam Dunia Penulis (Tere Liye)

Saya tidak kaget dengan heboh pernyataan Bang Tere Liye kemarin. Karena saya mengikuti pemikiran sekaligus langkah yang ditempuhnya soal keadilan bagi penulis. Termasuk audiensi yang saya lakukan Maret lalu kepada Pak Hestu Yoga selaku Direktur…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *