Aku Kangen

Menyandang status sebagai seorang anak desa yang mengais rezeki di Ibukota, kadang ke-ndesoan ku keluar tanpa kusadari.

Dan aku sudah menetapkan hati, ke-ndesoan ini ga akan aku hilangkan.

Sebagai bukti kecintaanku pada kampung halaman. Kedungpring. Dan belakangan ini aku semakin kangen rumah.

Aku kangen Kedungpring.

Saat hidup terasa begitu sederhana. Simple tanpa terlalu banyak retorika. Sekolah, berpetualang ke gunung, mandi di kali, atau bersepeda menusuri pematang sawah.

Yaah, sangat berbeda dengan anak kota-kota besar yang lebih akrab dengan video games, nyetir mobil walaupun kaki buat nginjek pedal gas aja belum nyampe, aku dan masa kecil ku lebih suka bercumbu dengan alam.

Dan sekarang aku merasa kehilangan semua keasyikan aktivitas yang biasa kulakukan dulu. Hingar bingar dan pesona gedung bertingkat sudah kehilangan daya tariknya. Padahal mungkin hal ini lah yang aku idamkan dulu.

Hamparan sawah menguning dan gemericik aliran sungai lebih cocok buatku.

Di belakang rumahku ada sawah yang membentang sampai ke ujung mata memandang. Tak jauh dari sana, ada sebuah tower listrik yang sudah tak terpakai semenjak aku kecil. Tower raksasa yang menjadi awal mula aku jatuh cinta pada eifel.

Seringkali di Tower itu kami segerombolan anak-anakl SD memanjat sampai puncak. Tak ada ketakutan untuk mendaki tower tersebut kendati tingginya bisa mencapai lima puluh meter. Yang kami takutkan bukan jatuh dari atas. Yang kami takutkan adalah reaksi marah orang tua kami jika tahu kami senekat ini.

Untuk anak kecil, bisa memanjat Tower yang tinggi itu merupakan anugrah tersendiri. Kami yang acapkali diperlakukan sebagai tuyul-tuyul kecil, seolah punya kuasa untuk menggenggam dunia.

 

Keasyikan itu bertambah ketika musim kemarau tiba. Kami para anak kecil membuat layang-layang sendiri. Mulai dari memilih bambu untuk membuat rangkanya. Mengelem ekor layang-layang sampai bermeter-meter dengan menggunakan butiran nasi. Hingga, memasang sendaren agar layang-layang kami gagah berbunyi di angkasa. Di desa kami, layang-layang buatan disebut dengan daplangan. Serupa burung walet yang sedang merentang keangkuhan.

Bentuk daplangan

Sambil memandang layang-layang yang sudah menikmati kemapanannya di angkasa, kami biasanya memancing di kolam belakang rumah. Kolam yang memang sengaja dibiarkan. Tidak diternakkan ikan tertentu oleh Bapak. Semua yang ingin memancing disana, selalu dipersilahkan oleh Bapak. Tidak hanya ikan, kolam itu juga menjadi markas untuk puluhan species lainnya. Ada belut, ular, dan serangga. Kami para anak kecil sudah berdamai dengan semuanya. Kami tak pernah saling mengganggu.

Memancing menjadi amat menyenangkan ketita kail-kail kami disambut Ikan Bogo atau sepat. Umpan kami tak istimewa, hanya cacing malang yang diolesi bawang putih. Konon kabarnya, bawang putih bisa menambah selera makan kaum ikan.

Sampai jam makan siang, kami para anan kecil membakar ikan itu di halaman belakang. Sederhana saja bumbunya. Hanya kecap dan cabe rawit seadanya. Bahan bakarnya pun hanya menggunakan sabut kelapa yang telah kering. Kami tak pernah menggunakan minyak tanah. Aromanya pembakarannya bisa merusak rasa ikan.

Begitu matang ikannya, Mamah sudah menyiapkan sebakul nasi untuk menemani kami menyantap hasil buruan kami. Dari kecil kami sudah diajarkan bahwa memakan hasil yang di dapat dari keringat sendiri, rasanya jauh lebih nikmat. Pun dengan kesungguhan rasa syukur yang kami panjatkan.

Biasanya selepas makan ikan bakar, Mamah akan menyuruh kami membayar hutang kami pada Ilahi. Memnuhi kewajiban shalat dzuhur.

Kami para anak kecil tak mempunyai rasa lelah. Batere kami tak pernah drop seperti handphone jaman sekarang yang melabeli dirinya telepon pintar. Kami akan menghabiskan hari kami dengan memanjat pohon jambu air. Jika sedang berbuah lebat, Mamah biasanya meminta kami memanennya. Jambu air ranum matang biasa Mamah jual ke pedagang di pasar. Tapi untuk kami, pohon ini lebih mengasyikkan dari taman bermain manapun.

Lebih melenakan dari kasur hotel bintang lima sekalipun.

Pengalaman tidur dibelai angin sawah siang hari di atas dahan perkasa pohon jambu air adalah pengalaman tak terlupakan.

Imajinasi lah yang mengubah tower listrik tak terpakai menjadi menara eiffel.

Imajinasilah yang mengubah pohon jambu air serasa taman bermain.

Dan kini,

Dari sebuah meja di ruangan ber-AC  di lantai 11 sebuah kantor di kawasan Mega Kuningan Jakarta, aku menulis ini.

Aku kangen bermain di sawah, di kolam belakang rumah, di atas tower dan di antara dahan pohon jambu air.

Aku kangen..

———————————————————————————————————————————–

ava rcos

CEO Inspirator Academy, penulis 6 buku, co-writer 17 buku artis, pengusaha, dan trainer.

Cerita Dari Dirigen Oli Bekas

Cerita Dari Dirigen Oli Bekas Beberapa hari yang lalu mungkin teman-teman tahu bahwa saya menginisiasi donasi untuk membantu seorang anak bernama Latif. Sebuah video viral di social media memperlihatkan dia sedang dipaksa menyiram oli bekas…

Kios Untuk Ayah

Apakah benar hidup bermula di usia 40 tahun? Banyak sekali yang berkata kepada saya demikian. Bisa jadi ada benarnya, bisa jadi tidak berlaku bagi sebagian besar orang. Coba lihat sekeliling kita saat ini, apakah saudara…

Kamukah Salah Satu Gelandangan Itu? – Properti

https://finance.detik.com/properti/3744907/95-kaum-milenial-terancam-jadi-gelandangan-di-2020 Belakangan saya sering membuat survey atau polling mengenai properti. Kamu tahu kenapa? Ya tentu saja berawal dari kegelisahan saya ketika membaca liputan khusus koran kompas bulan februari kemarin, ditambah berita penegasan dari detik.com ….

#JumuahBerfaedah – Mamah dan Anak Buangannya.

Dari usul status FB dan IG Story saya pagi tadi, saya memilih tema Ibu untuk saya ceritakan di Jumat  ini. Saya memiliki hubungan yang unik dengan Ibu (yang biasa saya panggil Mamah). Relationship saya dengan…

#JumuahBerfaedah – Berorganisasi, Bersilaturahmi, Bersinergi.

Saya adalah orang yang sangat percaya dengan kekuatan silaturahmi. Bagaimana silaturahmi menjadi pintu paling juara untuk membuka rezeki. Aku mengalaminya sendiri. Seorang Brili bisa menjadi seperti ini pun, asbab silaturahmi. Alhamdulillah, karena ketetapanNya, silaturahmi yang…

15 comments

    Membaca postingan ini tenggorokanku terasa sakit karna nahan tangis. Jadi ingat rumah mewah saya (mepettt sawahh) :-(. Tak pernah terbayangkan sekarang saya harus tinggal di antara gedung pencakar langit. Ngesot dikit gedung, koprol bentar gedung lagiiii….Tp sungguh merupakan kebahagiaan yg tiada tara bisa menghabiskan masa kecil & remaja di antara sawah2 yg membentang luasss :))

    itu semua pilihan, mas. merantau ke Jakarta dengan membawa rasa rindu yang dalam pada kampung tercinta, atau merelakan semua kesenangan ibukota dan hidup cukup di kampung.

    dan saya sendiri justru memilih kembali pulang ke kampung halaman setelah menyelesaikan studi, meninggalkan hiruk pikuk ibukota yang tiada habisnya. :)
    sungguh senang pernah mencicip ibukota, sayangnya hanya manis untuk dicicip, tidak untuk dinikmati terlalu lama :)

    Sedap kali omahmu mas Bril…
    Tapi tadinya tak pikir aku kangen si dia seseorang dengan sepatu hak 5 cm nya…hehehe

    Kangen main di sawah, plus barengan someone special pasti lebih keren mas…

    Serupa spt kerinduan yg ibu sering ucapkan pd sy ttg masa lalunya.. Sy dr kecil sudah d Jakarta tp hampir setiap tahun mudik.. Meskipun sedikit, sy tetap merasakan sepenggal masa indah di kampung.. Naik ke bukit depan rumah, mandi d kali, mancing di kali, manjat pohon cengkeh, bermain dgn sapi, dan masak dlm tungku kayu bakar.. Hanya sedikit saja sudah terasa indah dan kangen, pasti mas brili dan ibu saya lebih kangen lg dgn masa2 itu.. Jd pengen mudik 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *