Antara Menulis, Aku, dan Orang Tua

Belum lama ini, ketika sedang mengisi sebuah sesi seminar tentang menulis ada seorang Mahmud bertanya. Oh, mahmud yang ini bukan nama tukang nasi goreng yang mangkal di pengkolan. Mahmud ini adalah singkatan mamah muda.

“Mas Brili, dulu orang tuanya ngedidik Mas Brili gimana? Sampai bisa mendidik mas Brili bisa jadi penulis begini? 18 buku lagi.”

Tidak biasanya saya men-skip pertanyaan ini dan memilih menjawab pertanyaan lainnya. Pertanyaan ini terdengar sederhana, namun rasanya aku belum menemukan jawaban yang pas. Dan ini bukan pertanyaan yang itu lagi itu lagi. Pertanyaan yang berkutat tentang nyari inspirasi dimana, awal mula jadi penulis seperti apa. Dua pertanyaan yang rasanya jawabannya lebih baik aku rekam dan tinggal lypsinc aja kalo harus menjawabnya lagi.

Sambil menjawab pertanyaan yang lain, otakku berusaha keras membongkar memori masa lalu untuk menemukan jawabannya. Ya, orang tuaku adalah tipe orang tua tradisional. Bagi mereka lambang kesuksesan seorang anak ya karir yang bagus. Punya pekerjaan tetap yang jelas. Atau jadi Pe En Es.

Dikuliahin di sekolah pariwisata selama empat tahun bukannya kerja di kapal pesiar atau hotel malah jadi penulis. Itu keluhan orang tua saat aku memutuskan resign dari sebuah lembaga konsultan terbesar di Indonesia dan menjadi fulltime writer. Dan usaha mereka juga tak pernah berhenti membujukku untuk mencoba seleksi CPNS. Sampai sekarang.

Dan itulah yang membuatku berpikir keras, menjawab pertanyaan tadi. Karena jelas, bukan dukungan yang diberikan mereka.

Bakat? Well, kedua orangtua ku memang guru. Tapi tulisan yang paling sering mereka tulis ya nulis nilai buku rapot muridnya. Selain itu? Mamah memang sudah mulai rajin menulis status facebook sih.

Dan… Voila! Akhirnya aku dapat jawabannya.

“Orang tua saya mendidik saya dengan bertanya dan bercerita.”

Kita mulai dari Bapak. Bapakku adalah orang yang pendiam serta irit sekali bicara. Namun tingkat kekepoannya bisa lebih tinggi daripada seorang pacar yang insecure.

“Tadi di sekolah belajar apa?”

“Mau main sama siapa?”

“Dimana?”

“Semalam berbuat apa?”

Dan, Bapak adalah tipe yang walaupun sudah bertanya dan dijelaskan, beliau bisa menanyakan hal yang sama lagi dan lagi. Dari situ aku belajar menjadi pencerita. Menceritakan tentang alur, karakter yang ada dan komponen lainnya agar bisa runut menjadi sebuah cerita. Dan tanpa sadar membiasakan memasukkan unsur 5 W 1 H ketika menjawab pertanyaan=pertanyaan Bapak. Dan Bapak selalu punya momennya sendiri untuk bertanya. Setelah shalat isya, di teras, sambil stargazing. Yes, sambil melihat bintang-bintang bertebaran di langit desa Kedungpring.

Lalu Mamah. Mamah adalah tipe pencerita yang ulung. Kalo zaman sekarang mungkin istilahnya SUHERI “Suka Heboh Sendiri.” Kalo sudah cerita, maka akan sulit sekali untuk disela. Bahkan kita harus rela menahan untuk pipis sampai Mamah jeda sejenak untuk mengambil nafas dan melanjutkan bercerita. Bahkan beliau bisa menceritakan dengan heboh pengalamannya menawar baju lebih murah 500 perak dalam waktu 30 menit!

“Jadi begitulah cara orang tua saya mendidik saya. Kombinasi antara Bapak yang suka bertanya dan Mamah yang suka bercerita menjadikan saya sekarang mahir menuangkannya dengan cara yang berbeda. Melalui tulisan.”

Ya mungkin orang tuaku bukan orang tua yang memanggil guru privat menulis atau membelikan majalah setiap minggu. Bukan juga pujangga dengan bakat luar biasa. Namun aku sadar, jika hari ini aku sampai titik ini maka itu semua berawal dari Bapak yang suka bertanya dan Mamah yang suka bercerita.

“Big things often have small beginnings.” ― Prometheus.

CEO Inspirator Academy, penulis 6 buku, co-writer 17 buku artis, pengusaha, dan trainer.

#JumuahBerfaedah – Mamah dan Anak Buangannya.

Dari usul status FB dan IG Story saya pagi tadi, saya memilih tema Ibu untuk saya ceritakan di Jumat  ini. Saya memiliki hubungan yang unik dengan Ibu (yang biasa saya panggil Mamah). Relationship saya dengan…

#JumuahBerfaedah – Berorganisasi, Bersilaturahmi, Bersinergi.

Saya adalah orang yang sangat percaya dengan kekuatan silaturahmi. Bagaimana silaturahmi menjadi pintu paling juara untuk membuka rezeki. Aku mengalaminya sendiri. Seorang Brili bisa menjadi seperti ini pun, asbab silaturahmi. Alhamdulillah, karena ketetapanNya, silaturahmi yang…

Alien Dalam Dunia Penulis (Tere Liye)

Saya tidak kaget dengan heboh pernyataan Bang Tere Liye kemarin. Karena saya mengikuti pemikiran sekaligus langkah yang ditempuhnya soal keadilan bagi penulis. Termasuk audiensi yang saya lakukan Maret lalu kepada Pak Hestu Yoga selaku Direktur…

LAPORAN PAKET BERBUKA GOES TO DESA 2017

Nabi SAW bersabda: “ Sesungguhnya sedekah itu benar-benar akan dapat memadamkan panasnya alam kubur bagi penghuninya, dan orang mukmin akan bernaung dibawah bayang-bayang sedekahnya, “ – HR. At-Thabrani   Alhamdulillah Terimakasih tiada terkira bagi semua…

Update Paket Berbuka Goes To Desa 2017

Assalamualaikum Saudaraku… Apakah kita masih diberi kesempatan untuk bertemu Jumat lagi minggu depan? Atau Ramadhan lagi besok? Tak ada yang tahu perihal ini kecuali DIA yang Maha Mencipta. Yang bisa kita lakukan hanyalah berusaha melakukan…

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *