Mengumpulkan Nyali

Sebelumnya di postingan ini , aku bercerita jika aku telah memasuki lembaran baru menjadi fulltime trainer dan konsultan di PC. Momen itulah yang membuatku tidak lagi merasa “bekerja”. Aku merasa sedang bersenang-senang dengan berkarya. Melalui profesi sebagai trainer yang “Gue Banget” pokoknya.

Tepat satu tahun di PC, dan menjadi salah satu trainer yang paling tampan muda disana, aku merasakan kembali gejolak. Ada suatu kegelisahan yang melanda. Bukan ketidaknyamanan dalam menjalani profesi sebagai trainer. Tetapi lebih kepada, aku menginginkan sebuah quantum leap. Aku menginginkan kelas yang baru.

Kelas yang lebh tinggi. Yang manfaatnya lebih banyak terasa.

Di PC bisa dibilang aku mendapatkan semua yang selama ini mengalun dalam doa. Profesi idaman, Mentor yang luar biasa, kesempatan untuk mengasah jam terbang (Ini yang paling penting), dan juga network baru. Apalagi yang aku cari?

Keinginan sederhana. Aku ingin mandiri. Berdiri di atas kedua kaki ku. Aku tidak ingin digaji, aku ingin menggaji.

Dan hari itu pun tiba. Saat dimana aku harus mengumpulkan nyali, mengambil keputusan besar dalam hidup. Bertemu dengan Pak Adi, GM dari divisi ku.

“Pak, saya mau bicara sesuatu.” Duh, salah nada sedikit aja aku bisa dianggap cewe posesif yang abis ditinggal pergi sama main futsal sama cowonya.

“Apa bro? Mau resign ya?” Dengan randomnya Pak Adi menebak sekaligus menembak. Jleb! Jika saat itu aku bisa melihat wajahku sendiri, mungkin warna wajahku sudah memutih pasi.

“Iya Pak.. Saya mau mengajukan resign..” Pelan suaraku dan hati-hati aku menyampaikannya.

“…….” Kepucatanku seperti melompak ke wajah Pak Adi. Giliran dia sekarang yang terlihat mengalami serangan jantung ringan.

“Pak, sebelumnya saya sangat berterimakasih terhadap Bapak dan PC. Tanpa bimbingan langsung dari bapak, mungkin saya tidak bisa seperti. Bermimpi untuk menjadi trainer terbaik disini pun Saya pasti tak berani. Tapi saya yakin, tangan dingin Bapak lah yang berhasil membuat saya jadi seperti ini. Hanya mentor terbaik yang bisa mencetak murid terbaik.” Aku tak berani menatap matanya. Walaupun aku berusaha tegar dan membulatkan suara.

“Tapi kenapa bro? Why? Brili kan barusan udah dapat penghargaan Trainer terbaik di sini. Nilai Evaluasimu selalu tinggi.  Apa yang kurang?” Pak Ragil masih bisa menguasai suaranya. Dia tampak lebih tenang dari sebelumnya.

“Tidak ada yang kurang Pak.. Saya hanya ingin naik ke level yang lebih tinggi. Saya lebih memilih menjadi kepala ular daripada selamanya menjadi buntut naga. Saya ingin menghadirkan manfaat lebih besar untuk banyak orang Pak..” Kali ini kuberanikan menatapnya.

“Kamu mau gaji yang lebih tinggi? Saya bisa negosiasikan ini.. Kamu resign pun ga ada jaminan kamu bakal dapat penghasilan lebih tinggi dari sini. Apa ga terlalu beresiko?”

“Terima kasih banyak atas penghargaannya Pak.. Saya tetap pada pendirian saya.. Maaf.. Saya memang tahu ini penuh resiko. Ibarat saya melepaskan garansi kenyamanan yang saya dapatkan. Tapi jika saya tidak mencobanya, saya tak akan pernah tau hasilnya Pak.” Mataku panas. Berat bagiku melukai hati salah satu mentor terbaikku.

“Baik. Beri saya waktu sampai besok.”

Pak Adi yang sudah menganggapku sebagai saudaranya sendiri. Bahkan dia tak sungkan memanggilku “bro” untuk lebih menghilangkan jara. Sekarang aku merasa berdosa melukainya.

Akhirnya Pak Adi mengabulkan keinginanku. Berarti aku tinggal menghitung hari di PC. Dan pastinya dengan seabrek tugas yang harus segera kuselesaikan. Waktu satu bulan tak terasa.

Aku selalu benci momen perpisahan.

Dalam posisi dimana kamu harus mengucapkan selamat tinggal pada tim yang udah support selama setahun. Mengirimkan farewell email. Dan suasana yang mengharu biru itu selalu berhasil membuat mataku menganak sungai.

“Bro, keep contact ya..” Pak Adi menyalamiku.  Dia selalu berhasil membuatku salut. Sikapnya kepada bawahan yang akan kutiru nanti.

“Iya Pak, terima kasih buat semuanya. “ Kataku lirih.

“Saya Pamit ya Pak..” Aku memeluknya.

Sambil melihat sekeliling, dalam hati Aku berterima kasih pernah bekerja dalam kantor ini.

Pekerjaan yang tidak mudah, menantang, sekaligus membentuk karakter.

Sambil mengenang, aku berlalu dari sana.

Dan begitulah, satu halaman dalam buku ku telah selesai. Halaman yang akan menghiasi buku kehidupanku.

Kini, saatnya membuka ‘halaman’ baru. Dan menulis banyak cerita indah didalamnya.

Because in life, every ending just a new beginning :)

______

 

Epilog :

 

Momen yang berat. Tapi tanpa monen itu, aku ga akan bisa seperti saat ini. Menjadi pimpinan lembaga training yang kubentuk bersama salah satu sahabat trainer terbaikku. Merintis Inpro Training bersama Pak Ikhsan. Sekaligus membesarkan dengan lebih serius Rumah inspirasi Academy di tahun 2014.

Tak ada lagi gajian, Tak ada lagi tunjangan, dan tak ada lagi cuti ketika kamu memutuskan menjadi entrepreneur.

Yang ada hanyalah tantangan yang silih berganti.

 

Kalo kita ga mengumpulkan nyali dan memberanikan diri, mau kah kita ada di tempat yang sama sampai mati nanti?

 

 

Selamat tinggal 2013, Selamat datang 2014!

 

CEO Inspirator Academy, penulis 6 buku, co-writer 17 buku artis, pengusaha, dan trainer.

Cerita Dari Dirigen Oli Bekas

Cerita Dari Dirigen Oli Bekas Beberapa hari yang lalu mungkin teman-teman tahu bahwa saya menginisiasi donasi untuk membantu seorang anak bernama Latif. Sebuah video viral di social media memperlihatkan dia sedang dipaksa menyiram oli bekas…

Kios Untuk Ayah

Apakah benar hidup bermula di usia 40 tahun? Banyak sekali yang berkata kepada saya demikian. Bisa jadi ada benarnya, bisa jadi tidak berlaku bagi sebagian besar orang. Coba lihat sekeliling kita saat ini, apakah saudara…

Kamukah Salah Satu Gelandangan Itu? – Properti

https://finance.detik.com/properti/3744907/95-kaum-milenial-terancam-jadi-gelandangan-di-2020 Belakangan saya sering membuat survey atau polling mengenai properti. Kamu tahu kenapa? Ya tentu saja berawal dari kegelisahan saya ketika membaca liputan khusus koran kompas bulan februari kemarin, ditambah berita penegasan dari detik.com ….

#JumuahBerfaedah – Mamah dan Anak Buangannya.

Dari usul status FB dan IG Story saya pagi tadi, saya memilih tema Ibu untuk saya ceritakan di Jumat  ini. Saya memiliki hubungan yang unik dengan Ibu (yang biasa saya panggil Mamah). Relationship saya dengan…

#JumuahBerfaedah – Berorganisasi, Bersilaturahmi, Bersinergi.

Saya adalah orang yang sangat percaya dengan kekuatan silaturahmi. Bagaimana silaturahmi menjadi pintu paling juara untuk membuka rezeki. Aku mengalaminya sendiri. Seorang Brili bisa menjadi seperti ini pun, asbab silaturahmi. Alhamdulillah, karena ketetapanNya, silaturahmi yang…

10 comments

    Great man…dirimu telah melakukan banyak hal, bahkan ketika kakinya masih belum sebebas saat ini. 2014 menjadi ajang untuk terbang lebih tinggi, karena sayapmu telah makin membesar. Kepakan sayapmu di 2014 tentu kan makin membuatmu kian terbang lebih tinggi dan lebih jauh.

    Doa terbaik untuk sahabat sekaligus guru muda saya. Apa yang telah dijalani tinggal nanti dilengkapi dengan sesuatu yang kau pasti sudah tahu. Agar ketika nanti suatu saat sayapmu terluka, kau punya “obat” yang akan membuatnya untuk sembuh lebih cepat.

    Salam suksesmulia,
    Andy

    (“,)9 sama bang bril!! itu saya lakukan okt 2013 kemarin, nggak gampang memang tapi gimana lagi hahaha. move..move..move (–,)9 move on, move out.

    mas brili…sy kagum dengan karya abang dg judul mencintai tak bisa menunggu,baru baca dari awal aja uda kagum,apalagi baca semuanya,,tl beritahu alamt fbnya…trimakasih sebelumnya.

    Dalam pencarianku tentang Brand baruku ke The Champion Maker, entah kenapa aku ingin menuliskan Inspiratormaker dan semua halaman pertama mbah Google dipenuhi info tentang guru mudaku ini.

    Hal itu pula yang mengatarkanku ke blog ini. Luar biasa,,very inspiring..
    Semoga Im the next…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *