Teknik Komunikasi Bawah Sadar Anies Baswedan

Pilkada DKI
“Pikiran sadar hanya menangkap 12% isi pesan seseorang. 88% pesan masuk melalui pikiran bawah sadar.”

Semalam saya menonton ulang Debat ke-2 Pilihan Gubernur DKI Jakarta.

Dan sampai saat ini saya masih senyum-senyum melihat update status para pendukung Pak Ahok yang kira-kira banyak bunyinya begini :

1. Debat ko isinya nyerang mulu.
2. Paslon 3 dan Paslon 1 bekerjasama menyerang Paslon 2.

Well, this is funny. Kita runut dulu definisi debat menurut KBBI :

Debat : pembahasan dan pertukaran pendapat mengenai suatu hal dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing:

Jadi wajar to kalau masing-masing kandidat saling mempertahankan pendapat masing-masing? Jangan dimaknai itu sebagai serangan. Kalau misalnya tidak mau ada “serangan” itu bukan debat, tapi khotbah Jumat. Pasti adem tuh. Justru esensi debat adalah untuk melihat gagasan siapa yang paling cocok menurut kita. Jadi saling mengkritisi dan mempertahankan pendapat adalah esensi di sana.

Terus kenapa Paslon 2 yang terlihat seolah-olah diserang bersama oleh paslon 3 dan paslon 1? Hehehe janganlah pura-pura tak tahu kalau paslon 2 adalah incumbent atau petahana. Jelas yang menjadi sasaran kritik adalah current situation di Jakarta. Yang jelas-jelas hasil kinerja Paslon 2. Saya yakin, kalau paslon 1 yang incumbent, yang terjadi juga sama. Paslon 3 dan Paslon 2 akan mengkritik Paslon 1. Sampai sini masuk akal?

Kebetulan saya belajar mengenai hypnotic writing, hypnotic languange, NLP, dan berbagai macam pola komunikasi. Terutama komunikasi di level bawah sadar, unconsious. Dan di sini saya akan membatasi pada pola komunikasinya, tidak berpolemik pada isi dari pesannya. Dan dari apa yang saya amati, dari ketiga paslon, Pak Anies lah yang paling unggul.

Ko bisa?

Kita bahas dari sesi pertama debat ke-2 saja. Pada saat pembukaan untuk melihat bagaimana “cerdik” dan “cantiknya” Pak Anies dalam berkomunikasi.

Pak Anies sangat menonjolkan politik identitas dalam setiap komunikasinya. Ini sesuai dengan salah satu teknik dasar di Neuro Linguistic Program yang disebut Matching dan Mirroring. Simplenya adalah kalau kita mau berkomunikasi efektif dan memasukan pesan kita kepada kawan bicara kita, lakukan dulu matching dan mirroring. Matching dan mirroring adalah mencari kesamaan sebanyak mungkin dengan kawan bicara untuk mendapatkan kepercayaannya. Karena manusia secara alamiah cenderung lebih nyaman berkomunikasi dengan orang yang memiliki banyak kesamaan dengannya.

Politik Identitas (Matching dan Mirroring) cantik yang dilakukan oleh Pak Anies di sesi pertama debat adalah

1. Dari ketiga paslon, hanya Pak Anies yang mengucapkan “Bismillah” sebelum memulai berbicara. Dilanjutkan dengan Assalamualaiku. Untuk siapa pesan ini dikirim? Tentu saja untuk menonjolkan identitas Pak Anies sebagai seorang muslim yang taat. Dan membuat kesamaan dengan mayoritas pemilih Pilkada DKI, yaitu pemilih muslim. Paslon satu hanya dengan Assalamualaikum.Paslon dua, tidak memunculkan keduanya.

2. Di awal debat, hanya Pak Anies yang begitu firm mengucapkan “Gong Xi Fat Choi” pada Pak Ahok dan seluruh etnis Tionghoa di Indonesia. Dengan teknik ini, beliau mengirimkan dua pesan sekaligus. Mengirimkan pesan bahwa Pak Anies adalah pemimpin yang menghargai keragaman dan kemajemukan Indonesia. Sekaligus menegaskan pesan kepada pemirsa bahwa Pak Ahok adalah satu-satunya Cagub DKI ber-etnis Tionghoa.

3. Mungkin teman-teman sempat tidak sabar ketika Pak Anies di awal justru seolah-olah “membuang” waktunya dengan menyapa gurunya dari Jogja yang bernama Pak Jono.
Dengan berkata, ” Maturnuwun Pak Jono, sampun rawih saking Jogja khusus kangge acara debat malam ini. Maturnuwun.”
Dalam kacamata saya, ini bukan buang-buang waktu. Ini justru teknik komunikasi bawah sadar ketiga untuk mengirim pesan dengan cantik.
Sekali lagi Pak Anies memainkan Politik Identitas dengan matching dan mirroring. Kepada siapa? Jelas kepada suku Jawa yang lagi-lagi merupakan suku mayoritas yang ada di Jakarta. Dia mengirimkan pesan, bahwa dia adalah bagian dari mereka. Suku Jawa.
Jadi kehadiran Pak Jono itu bukan kebetulan, namun sudah disiapkan dengan perhitungan yang matang oleh tim paslon no.3.

Nah, ketiga pesan itu Pak Anies kirimkan dalam 30 detik pertama beliau tampil.

Saya harus acungi jempol pada tim balik layar dari Pak Anies dan Bang Sandi. Saya sempat berada di balik layar seorang calon pemimpin di pesta demokrasi berbeda. Tugas saya menyiapkan script pidato, skenario, mengatur body languange si calon agar maksimal di atas penggung. Itulah mengapa saya terkesima dan banyak belajar dari debat putaran kedua jumat malam.

Sebenarnya masih banyak sekali hal, yang saya pelajari dari pola komunikasi Pak Anies selama debat. Pilihan bahasanya, gerakan tangan dan body languange nya, hingga alasan mengapa di debat kedua beliau terlihat lebih “garang” dalam penyampaian kritiknya.

Namun, lain kali saja kita bahas ya. Tulisan ini dibuat untuk sarana pembelajaran saya pribadi. Teman-teman boleh setuju, boleh tidak. Jadi please, no hard feeling dan no baper. Okay?

Salam Bersama!

CEO Inspirator Academy, penulis 6 buku, co-writer 17 buku artis, pengusaha, dan trainer.

Trainer Pemanjat Pinang

Ngomongin panjat pinang, pasti ingatan kita langsung meluncur ke lomba 17-an. Dulu, saat masih SD aku selalu menganggap Panjat Pinang ini adalah perlombaan orang dewasa. Ketakutan terbesarku adalah aku takut badanku remuk menjadi perkedel karena…

YES! Im a Happy Trainer

Cerita tentang berakhirnya karirku sebagai seorang hotelier yang sempat tayang disini berlanjut seru di babak selanjutnya. Mungkin di awal tahun 2013 aku adalah salah satu mahluk yang paling berbahagia di dunia. Bisa jadi aku memiliki…

#ONTrepreneur TRAINING

Dunia entrepreneur adalah dunia yang semakin “hot” bagikalangan pemuda saat ini. Semua berlomba-lomba untuk menjadi mandiri dan meraihkesuksesan di dunia wirausaha. Iming-iming uang yang banyak kadang menjadialasan bagi sebagian orang. Namun, apakah semua langsung sukses…

Fall ON Love Training

Love ON dan Move ON dengan 4 ON Jatuh cinta adalah sebuah perkara mudah jika dibandingkandengan membangun cinta. Jika jatuh cinta hanya mengandalkan perasaan, membanguncinta justru butuh kolaborasi sempurna antara hati dan logika. Apalagi denganserbuan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *